Angel (cerita penyintas)

Jun 16, 2020Kisah

Disclaimer: Cerita ini ditulis berdasarkan wawancara kepada salah satu penyintas untuk kepentingan edukasi. Beberapa hal mungkin berkaitan dengan hal yang traumatis atau menimbulkan ketidaknyamanan bagi sebagian pembaca. Kami menyarankan kepada pembaca untuk membaca dengan bijaksana.
Penulis: Maria Fransiska Ayu Diva Yulita
Mahasiswa Prodi Ilkom Atma Jaya Yogyakarta
Instagram: @ayudivayulita
Hi, namaku Angel! Usiaku sekarang 18 tahun. Aku ingin berbagi cerita kepada kalian tentang masa laluku. Aku harap ceritaku bisa dijadikan sebagai sebuah pelajaran untuk kalian semua agar berhati-hati. Jadi, aku bersekolah di salah satu SMK yang salah satu jurusannya adalah seni kriya kreatif batik dan teksil. Aku hobby menari. Karena itu, saat sekolah di SMK aku memilih mengikuti ekstrakulikuler tari. Aku merasa senang ketika hobby ini bisa aku jadikan sebagai pekerjaan untuk mengisi tarian di beberapa panggung acara.

Lalu, saat aku duduk dibangku kelas 2 SMK aku berkenalan dengan seorang pria. Sebut saja pria itu bernama Yanuar. Yanuar adalah teman baik dari sahabatku yang bernama Ferry. Tidak kusangka seiring berjalannya waktu kami semakin dekat dan memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dari seorang teman. Disisi lain aku pun tahu jika Yanuar sudah mempunyai istri sejak awal kami bertemu. Tetapi aku tetap melanjutkan hubungan karena aku serius dan merasa terjamin, dalam artian aku mempunyai mimpi yang begitu jauh karena Yanuar mau menikahiku. Terlebih istri Yanuar sudah ditalak.

Sementara itu, orangtuaku dari awal tidak merestui hubungan kami, walau mereka tidak tahu sekalipun bahwa Yanuar sudah mempunyai istri. Aku menjalani hubungan dengan Yanuar secara diam-diam. Tanpa disadari aku terlena dalam hubungan tersebut dan membuatku berubah serta lupa diri.

Rasanya ingin ku habiskan seluruh waktu bersama dia setiap harinya, sehingga aku menjadi mulai malas melakukan aktivitas seperti mengembangkan hobbyku. Tidak terasa, hubunganku sudah berjalan 1,5 tahun dan hingga suatu saat ia mulai mengajak ku untuk melakukan hubungan seksual. Awalnya aku menolak, aku lari, aku merasa takut hingga akhirnya aku luluh dan menerima saat Yanuar mengajakku berhubungan ala suami istri.

Rasanya ingin ku habiskan seluruh waktu bersama dia setiap harinya, sehingga aku menjadi mulai malas melakukan aktivitas seperti mengembangkan hobbyku.

Lama kelamaan, hal tersebut menjadi seperti candu. Perasaan itu pun membuatku merasa semakin terikat. Apalagi hubungan itu pun menjadi sarana pelampiasan rasa gundah gulanaku ketika keluarga di rumah justru selalu mencaci dan membuatku muak. Bagiku, rumah seperti neraka. Dalam hubungan yang terlarang itu, aku merasa lebih tenang dan nyaman.

Lalu, pada akhirnya, malapetaka itu tiba, aku hamil. Awalnya aku tenang-tenang saja karena Yanuar mau bertanggung jawab atas kehamilanku. Namun pada waktu Yanuar berjanji untuk bertemu dengan kedua orang tua ku, ia tidak kunjung datang. Ia beralasan tidak bisa datang karena ketiduran. Alhasil, aku sendiri yang menghadapi kemurkaan kedua orang tuaku.

Kedua orangtuaku lalu memutuskan agar aku masuk ke asrama. Di asrama aku merasa seperti dikurung serta kesepian, sehingga mendorongku dengan kuat untuk bunuh diri. Hingga suatu saat, aku pun diperbolehkan bertemu lagi dengan Yanuar. Rasa rinduku tak terbendung disaat aku bisa melihat dia kembali, aku sungguh bersyukur. Kami lalu memutuskan untuk menjalin hubungan secara diam-diam dan ia berjanji bahwa tidak ada wanita lain selain diriku di dalam hatinya.

Akhirnya aku berusaha bangkit dan ikhlas serta memutuskan fokus untuk mencari nafkah untuk anakku kelak. Aku mulai merintis bisnis membatik dan membuat kerajinan. Aku manfaatkan ilmu yang aku peroleh saat duduk di bangku sekolah.

Namun sebaliknya, aku kemudian mengerti bahwa Yanuar mempunyai pacar baru lagi yang bernama Ema. Hatiku merasa dicabik-cabik, apalagi saat itu aku sedang mengandung anaknya. Setelah proses melahirkan, kami pun melakukan mediasi keluarga. Mediasi tersebut memutuskan bahwa untuk kebaikan bersama, kami tidak akan dipersatukan. Kami tidak akan menikah dan tinggal di rumah orangtua masing-masing. Aku sempat merasa terpukul selama beberapa waktu.

Setelah aku pikir-pikir, toh tidak ada baiknya bersedih berkepanjangan. Akhirnya aku berusaha bangkit dan ikhlas serta memutuskan fokus untuk mencari nafkah untuk anakku kelak. Aku mulai merintis bisnis membatik dan membuat kerajinan. Aku manfaatkan ilmu yang aku peroleh saat duduk di bangku sekolah.

Puji Tuhan, usahaku berjalan dengan lancar, walau belum menjadi bisnis yang besar. Dari sini aku punya cita-cita untuk membuka galeri seni tekstil dan membuka lowongan kerja untuk mereka yang pengangguran, disaat bisnisku sudah semakin berkembang nanti. Kelak usaha ini pun bisa aku jadikan untuk bekal untuk menyekolahkan anakku setinggi-tingginya.
× Hubungi Kami