Gembala Baik melakukan FGD bersama OMK paroki Wates

Pada Jumat, 27 Mei 2022 Gembala Baik Yogyakarta melakukan Focus Group Discussion (FGD) bersama Orang Muda Katolik (OMK) dari Paroki Gereja St. Maria Bunda Penasehat Baik, Wates, Kabupaten Kulon Progo. Dalam diskusi terfokus ini setiap kelompok mengungkapkan ide, gagasan dan pendapat mereka tentang pelbagai fenomena Kekerasan Berbasis Gender melalui Role Play, bagaimana keseruan kegiatan ini ? yuk, lihat video berikut ini

FGD tentang pengalaman tidak menyenangkan di Promosan

FGD tentang pengalaman tidak menyenangkan di Promosan

ooo.. ternyata ada juga ya yang gak suka ya kalo ditoyor kepalanya, padahal aku sering digituin,” tukas salah seorang anak

aku juga pernah nih, dapet pesan aneh dari orang yang gak ku kenal di media sosial, nyebelin banget,” ungkap anak lainnya.

Begitulah suasana dan tanggapan dari anak-anak SMP Katolik Kemasyarakatan Kalibawang, Kulon Progo. Anak-anak secara terbuka dan berani mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami di lingkungan sekolah ataupun di rumah pada Focus Group Discussion (FGD) tentang Kekerasan Berbasis Gender di Sekolah. FGD yang dilakukan pada hari Kamis 2 Juni lalu menjadi oleh-oleh bagi upaya pencegahan dan perlindungan Kekerasan Berbasis Gender khususnya di Yogyakarta khususnya di Kabupaten Kulon Progo.

Pada tahun ini Gembala Baik Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Kulon Progo tengah melaksanakan progam Pendekatan Berbasis Hak dalam upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender. Program ini dilakukan di 2 sekolah di Kulon Progo. Salah satunya yaitu SMPK Kemasyarakatan Promasan, Kalibawang.

Agenda kegiatan diawali dengan melakukan studi kualitatif bersama anak-anak untuk menggali pengalaman tidak menyenangkan di sekolah dan di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan tujuan mendapatkan gambaran situasi terkini terkait dengan kekerasan dan kekerasan berbasis gender yang tengah terjadi. Hal ini akan ditindaklanjuti dengan strategi lanjutan dalam upaya menghentikan kekerasan di sekolah ataupun Menyusun strategi penanganan kasus yang lebih dekat dengan anak.

“Anak-anak menyampaikan bahwa, salami ini jika terjadi sesatu yang kurang menyenangkan, anak-anak tadi menyampaikan bahwa mereka memilih untuk diam saja, memendam semua sendiri, atau sesekali bercerita dengan teman sebayanya atau juga orang tuanya, namu kerap kali kejadian yang tidak menyenangkan ini masih terjadi lagi,” terang Pipit, tim pendamping dari Gembala Baik.

Menurut Pipit lagi, suara anak ini lah yang akan menjadi dasar untuk membuat system pencegahan dan  penanganan kasus kekerasan terhadap anak yang mudah dijangkau, bersahabat dan tepat bagi anak.

Kegiatan yang dilakukan secara partisipatif bersama Sr. Theresia Kurniawati, dan tim pendamping di Gembala Baik Yogyakarta.

Ibu Yang Bertanggung Jawab

Ibu Yang Bertanggung Jawab

Dia sibuk, memencet angka di gadgetnya, Ia mencatat beberapa nomor yang akan dia jual ke orang-orang di desanya, sembari mencatat, dia melawan hukuman yang tertera di lingkungannya. Dengan handphone kecilnya dia melawan aturan untuk menghidupi keluarganya. Di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, lebih tepatnya, Desa Lilir, di desa yang terpencil itu dia dikenal sebagai ibu Umbe, wanita penjual nomor judi illegal atau togel.

Tiga bulan sudah berlalu sejak virus dari Wuhan, Cina tersebut menyentuh pulau Lombok. Ibu Umbe yang dulunya bekerja sebagai pembuat kerajinan tangan dari bambu yang dia jual di pasar, kini harus ikut bekerja bersama suaminya sebagai tukang bangunan. Pelanggan ibu Umbe sudah tidak seperti dulu, bahkan tidak mencapai setengahnya karena pasar sangat sepi, kondisi itu mengharuskannya untuk mengambil pekerjaan lain guna memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Selama empat bulan ibu Umbe bekerja bersama suaminya, tetapi ibu Umbe harus diberhentikan dengan paksa karena proyek bangunan berusaha mengurangi tenaga kerjanya. Ibu Umbe tahu jika dia tidak bekerja dia tidak akan bisa menghidupi anaknya, dan juga dia sedih melihat suaminya yang harus banting tulang bekerja dari pagi sampai malam. Ibu Umbe bertanya-tanya kepada kerabat dan keluarganya apakah ada pekerjaan yang bisa ia ambil. Berita ibu Umbe mencari pekerjaan mencapai telinga kerabatnya yang tinggal di dekat kota, Ibu Umbe mengharapkan pekerjaan yang tidak terlalu melibatkan menulis dan menghitung, tetapi apa yang ditawarkan oleh kerabatnya adalah sebagai penjual nomor toto gelap/togel di tempat penjudian sang kerabat biasa bermain. Ibu Umbe tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusannya karena dia tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang berbahaya.

Tetapi godaan sangat berat bagi ibu Umbe, selama pandemi ini, dia dan keluarganya merasakan krisis ekonomi yang sangat parah, dia terpaksa menggadaikan satu buah motor dan beberapa warisan keluarga hanya untuk mendapatkan uang makan sehari-hari, belum lagi biaya sekolah anak lelakinya. “Sebelum corona saja kita udah miskin, apalagi sekarang” cetus ibu Umbe kepada suaminya. Suaminya tidak bisa melakukan apa-apa karena ia juga tahu bahwa mereka sedang susah. Dengan ragu tetapi beraninya, dia memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai penjual nomor togel, ia menghubungi kerabatnya dan bersama-sama mereka pergi ke tempat penjudian. Sesampai disana, dia sangat senang mendengar jumlah uang yang ditawarkan kepadanya, dalam sekali transaksi, ibu Umbe bisa memperoleh seperempat dari gajinya dalam sebulan bekerja bersama suaminya. Sang pemilik penjudian juga sangat senang karena bisa mendapatkan wanita seperti ibu Umbe, karena siapa yang akan menduga seorang ibu rumah tangga lulusan SD di desa terpencil akan menjual nomor togel. Dibekali sebuah handphone kecil hitam putih yang akan digunakannya untuk alat transaksi, dia berhenti bekerja bersama suaminya dan mulai membangun reputasinya sebagai wanita penjual nomor judi illegal atau togel.

Hampir 3 bulan sudah berlalu sejak ibu Umbe menerima pekerjaan berbahaya itu, setiap harinya ibu Umbe bisa melakukan dua sampai tiga transaksi, dia dan suaminya sudah mengumpulkan cukup uang untuk menebus motor dan warisan yang ia gadaikan. Saat itu ibu Umbe sudah sempat bepikir untuk berhenti menjual nomor togel, tetapi dia belum puas dengan apa yang dia hasilkan, dia masih ingin lebih. Walaupun sang suami sudah memperingatkan, tetap saja ibu Umbe berdiri teguh dengan pendiriannya untuk tetap menjual nomor togel. Satu bulan berlalu, ibu Umbe sudah tidak lagi pusing memikirkan apa yang bisa mereka makan untuk besok, ia bahkan bisa menyimpan uang hasil jual togel di tabungannya. Mereka tidak lagi perlu khawatir untuk menggadaikan harta mereka, sampai suatu saat dimana ibu Umbe baru menyadari bahwa reputasinya meledak, nama ibu Umbe menjadi perbincangan di desanya. Perasaan curiga para tetangga muncul, melihat keadaan rumah tangga ibu Umbe yang sudah kembali seperti semula. Tanpa disadari ibu Umbe selama beberapa bulan terakhir ini sudah membangun reputasinya terlalu luas, dia tidak berhati-hati dalam berjualan, dia secara asal menjual ke orang tanpa memikirkan konsekuensinya, dan dia sadar bahwa selama ini dia tidak memiliki cara untuk menutupi tindakan kriminalnya ini. Tetapi itu semua sudah terlambat, beberapa hari yang lalu, seorang tetangga yang iri, melihat ibu Umbe memberikan nomor di secarik kertas kepada orang asing, dan orang asing itu memberikan ibu Umbe uang yang berjumlah lumayan besar. Tanpa keraguan, tetangganya itu melaporkan ibu Umbe kepada kerabatnya yang bekerja sebagai polisi.

Siang itu, saat ibu Umbe sedang memasak di dapurnya, datang dua pria berseragam dengan lencana di dada mereka, mengetuk pintu, dan salah satunya menyebutkan nama ibu Umbe. Saat itu suami Ibu Umbe sedang bekerja dan hanya ada anak lelaki ibu Umbe yang sedang belajar dari rumah, dia keluar dan menyapa kedua pria tersebut. Ibu Umbe mengintip dari dapur yang terletak berseberangan dengan pintu depan rumahnya dan sadar bahwa ada dua orang polisi yang mencarinya, mendengar perbincangan kedua polisi itu dengan anaknya, Ibu Umbe berusaha bersembunyi, tetapi semua sudah terlambat, kedua polisi itu bersikeras untuk memeriksa rumahnya. Kedua polisi itu masuk dan menangkap basah ibu Umbe yang sedang berusaha menghubungi pemilik atau bandar togel yang memperkerjakannya. Tanpa berpikir panjang, kedua polisi langsung menyeret ibu Umbe keluar rumah, anaknya menangis tidak mengetahui kenapa ibunya ditangkap, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan dua polisi berbadan besar itu, dan semua tetangga melihat kericuhan yang terjadi.

Ibu Umbe dibawa ke kantor polisi dan ditaruh di dalam sel selama satu malam. Keesokan harinya ia baru di perbolehkan untuk menghubungi seseorang, dia menghubungi pemilik togel. Pemilik togel itu berkata kepada ibu Umbe untuk menunggu saja dengan sabar, dia akan menyelesaikan ini, katanya. Satu minggu ibu Umbe di tahan di sel kota, selama disana dia berpikir, dia merasa bersalah karena sudah melakukan pekerjaan yang tidak benar, tetapi di sisi lain dia juga senang karena merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya, sejak berjualan togel, keluarganya tidak lagi perlu memikirkan masalah uang. Setelah satu minggu, ibu Umbe berhasil keluar dari sel, “kamu boleh keluar hari ini” kata polisi yang mengeluarkannya, tetapi ibu Umbe tahu ini pasti ulah dari sang bandar togel. Ibu Umbe langsung menuju kerumah dengan perasaan lega dan khawatir. Sesampai dirumah dia langsung memeluk anak dan suaminya, dan dia berjanji pada dirinya tidak akan melakukan pekerjaan semacam itu lagi, walaupun sang bandar togel masih menawarkan pekerjaan tersebut ke ibu Umbe. dengan tegas, dia bilang “Tidak!”

Hasil dari penjualan togel yang berhasil disembunyikan ibu Umbe di balik tembok dapurnya bisa membekali keluarganya selama dua bulan kedepan. Ibu Umbe mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lagi, tetapi kebingungan dan rasa takut terngiang di kepala ibu Umbe. Sampai pada suatu hari datanglah seorang pemuda dari pinggir kota dengan semangat membangun usaha yang memberdayakan tenaga wanita. Mendengar kisah dari desa Lilir mengenai seorang wanita yang ditangkap polisi akibat pekerjaanya yang illegal, pemuda itu langsung mencari alamat rumah ibu Umbe. Sesampainya disana, pemuda itu dengan antusiasnya menjelaskan usaha yang akan dia bangun, yaitu usaha kerajinan organik, dan dia menjelaskan betapa bersyukurnya jika dia bisa memperkerjakan seorang wanita yang pemberani, khususnya dengan latar belakang cerita seperti ibu Umbe, dan dia berkata, dua bulan lagi, akan ada sebuah acara pasar organik yang akan diselenggarakan di kota, dan jika ibu Umbe bersedia, dia berkenan untuk mengajak ibu Umbe ke acara tersebut. Ibu Umbe sempat berpikir dia tidak akan mampu, dia merasa tidak percaya diri karena dia hanya lulusan Sekolah Dasar, tetapi sifat pemberani ibu Umbe muncul setelah memikirkan keluarganya yang akan kesusahan. Tanpa ragu dia menerima tawaran dari si pemuda itu dan keesokan harinya mereka mulai bekerja sama. Pemuda itu terkejut dengan semangat kerja yang dimiliki ibu Umbe, kerajinan yang dihasilkan ibu Umbe sangat rapi dan bagus, pada bulan pertama mereka sudah berhasil memperoleh cukup stok untuk dijual pada acara yang akan datang.

Walaupun penuh dengan rasa gugup dan tidak percaya diri, ibu Umbe memberanikan diri untuk mengikuti pemuda itu ke acara yang dimana isinya penuh dengan orang asing atau mancanegara. Mereka mulai berjualan dari pagi sampai sore hari. Di pasar itu, ibu Umbe terkejut kerajinan yang dia buat sangat disukai para orang asing! Ketakutan dan ketidakpercayaan dirinya seketika digantikan oleh kesenangan dan semangat yang membara. Mereka hampir menjual semua stok yang mereka bawa, ibu Umbe pun diantar pulang dan mereka melanjutkan untuk bekerja lagi keesokan harinya, semangat ibu Umbe tidak pernah luntur, setiap hari karyanya
menjadi semakin bagus dan rapih. Pemuda itu juga menjual kerajinan ibu Umbe secara daring, produk mereka pun mendapatkan respon yang sangat bagus dari pasar. Tidak lama kemudian muncul banyak tawaran untuk bekerja sama dan tawaran untuk melakukan ekspor, mereka berdua tentu menerimanya dengan senang hati. Nama ibu Umbe sekali lagi menjadi perbincangan di desanya, tetapi kali ini sebagai perempuan yang hebat, berani dan dikagumi masyarakat. Kerajinan ibu Umbe saat ini sudah terjual di banyak negara, dan ibu Umbe juga menjadi panutan para wanita di desanya.

Oleh : I Gusti Ngurah Alexander

Ini merupakan cerita dari peserta program dan pemenang lomba cerpen mengenai Hari Perempuan Internasional tahun 2020.  

Demi Anak-Anak, Pekerjaan Halal Apapun Kulakukan, Dengan Semangat

Demi Anak-Anak, Pekerjaan Halal Apapun Kulakukan, Dengan Semangat

Hai teman baik, aku  ingin berkisah tentang sedikit pengalamanku untuk  teman-teman ataupun ibu tegar dan kuat di luar sana.

Sebut saja nama aku Santika (bukan nama asliku). Aku menjalani hidup  layaknya orang lain diluar sana, yang berbeda adalah  Aku seorang  ibu tunggal dengan tiga  anak perempuan yang masih bersekolah. Anak pertama baru saja lulus dan masuk di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. Anak yang kedua saat ini sedang berada di bangku SMP dan anakku yang ketiga masih kecil bersekolah di Taman Kanak-Kanak.

Aku menjadi ibu tunggal setelah suamiku pergi begitu saja meninggalkan anak-anak dan aku. Aku mencoba mencaritahu keberadaannya, mencoba mengajaknya kembali namun sampai saat ini semua usahaku sia-sia. Aku bekerja keras untuk buah hati yang sedang membutuhkan biaya baik untuk kelangsungan hidup maupun untuk pendidikan mereka. Melihat wajah- wajah cantik nan lucu  membuat ku bangkit dari segala masalah yang aku hadapi . Aku sangat bersyukur karena bersama mereka hidupku  terasa lebih berwarna , banyak hikmah yang terjadi dan itu menjadi pelajaran untukku untuk bisa  lebih bersykur lagi. Tuhan memberikanku anugerah yang membuatku kuat menjalani kehidupan yang seringkali kurasa tidak mudah.

Demi masa depan  anak-anakku, aku menjalani tiga pekerjaan. Pekerjaan utamaku adalah penyuplai sekop pasir , setiap ada orderan aku mengantarkan barang -barang itu ke toko besi . Dari satu toko besi ke toko besi lain aku berusaha menawarkan sekop pasir. Beberapa minggu kemudian  aku mengambil hasil jualan sekop pasir yang laku terjual. Sekop pasir itu sendiri aku beli dan kujual lagi /kulakan dari seorang pembuat sekop pasir rumahan. Aku berusaha menyisihkan uang dari hasil penjualan sekop pasir untuk tabungan sekolah anak-anakku. Pekerjaanku yang lain adalah membantu membuat jajanan pasar dan terkadang aku membuat bakso tusuk untuk dijual.  Semua aku lalui dengan lapang dada dan iklhas menikmati setiap ritme kehidupan ini.

Kekhawatiranku adalah ketika orderan sekop pasir sepi sementara aku harus memberi anak-anakku makan. Puji Tuhan yang bisaku ucapkan karena anak-anakku mengerti dan malah menyemangatiku. Mereka makan apa adanya tidak menuntut apapun dariku. Aku tidak memikirkan hal lain, kecuali tiga buah hatiku dengan senyum dan tawa mereka membuatku gembira. Aku harus bangkit dan mengerjakan pekerjaan lain  yang menghasilkan, agar tercukupinya kebutuhan rumah dan sekolah anak. Apapun kulakukan asal halal agar semua kebutuhan anak-anakku terpenuhi terutama untuk sekolah,karena sekolah adalah hal yang paling penting.

Aku mengenal komunitas Gembala Baik oleh salah satu temanku sebut saja namaya Eka (bukan nama asli). Dia mengajakku untuk datang ke salah satu kegiatan komunitas srikandi Gembala Baik Yogyakarta di situ aku bertemu dengan  ibu – ibu yang  kondisinya sepertiku. Pada Saat melihat  ibu-ibu itu  aku merasa nyaman dan senang mempunyai teman karena aku bisa sharing dan mendengar cerita mereka, dan rasa gejolak semangat aku menjadi semakin besar untuk hidup .  Pada awalnya aku merasa sendiri  menjalani jatuh bangun kehidupan,  bersama komunitas srikandi kepercayaan diriku semakin kuat.  

Begitulah, kisah yang bisa aku ceritakan untuk teman-teman. Mungkin tidak sebanding dengan perjuangan teman -teman dalam menjalani hidup ini. Terima kasih sudah mau membaca ceritaku, sampai berjumpa lagi teman baik.

× Bagaimana Kami dapat membantu Anda