Dia sibuk, memencet angka di gadgetnya, Ia mencatat beberapa nomor yang akan dia jual ke orang-orang di desanya, sembari mencatat, dia melawan hukuman yang tertera di lingkungannya. Dengan handphone kecilnya dia melawan aturan untuk menghidupi keluarganya. Di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, lebih tepatnya, Desa Lilir, di desa yang terpencil itu dia dikenal sebagai ibu Umbe, wanita penjual nomor judi illegal atau togel.

Tiga bulan sudah berlalu sejak virus dari Wuhan, Cina tersebut menyentuh pulau Lombok. Ibu Umbe yang dulunya bekerja sebagai pembuat kerajinan tangan dari bambu yang dia jual di pasar, kini harus ikut bekerja bersama suaminya sebagai tukang bangunan. Pelanggan ibu Umbe sudah tidak seperti dulu, bahkan tidak mencapai setengahnya karena pasar sangat sepi, kondisi itu mengharuskannya untuk mengambil pekerjaan lain guna memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Selama empat bulan ibu Umbe bekerja bersama suaminya, tetapi ibu Umbe harus diberhentikan dengan paksa karena proyek bangunan berusaha mengurangi tenaga kerjanya. Ibu Umbe tahu jika dia tidak bekerja dia tidak akan bisa menghidupi anaknya, dan juga dia sedih melihat suaminya yang harus banting tulang bekerja dari pagi sampai malam. Ibu Umbe bertanya-tanya kepada kerabat dan keluarganya apakah ada pekerjaan yang bisa ia ambil. Berita ibu Umbe mencari pekerjaan mencapai telinga kerabatnya yang tinggal di dekat kota, Ibu Umbe mengharapkan pekerjaan yang tidak terlalu melibatkan menulis dan menghitung, tetapi apa yang ditawarkan oleh kerabatnya adalah sebagai penjual nomor toto gelap/togel di tempat penjudian sang kerabat biasa bermain. Ibu Umbe tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusannya karena dia tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang berbahaya.

Tetapi godaan sangat berat bagi ibu Umbe, selama pandemi ini, dia dan keluarganya merasakan krisis ekonomi yang sangat parah, dia terpaksa menggadaikan satu buah motor dan beberapa warisan keluarga hanya untuk mendapatkan uang makan sehari-hari, belum lagi biaya sekolah anak lelakinya. “Sebelum corona saja kita udah miskin, apalagi sekarang” cetus ibu Umbe kepada suaminya. Suaminya tidak bisa melakukan apa-apa karena ia juga tahu bahwa mereka sedang susah. Dengan ragu tetapi beraninya, dia memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai penjual nomor togel, ia menghubungi kerabatnya dan bersama-sama mereka pergi ke tempat penjudian. Sesampai disana, dia sangat senang mendengar jumlah uang yang ditawarkan kepadanya, dalam sekali transaksi, ibu Umbe bisa memperoleh seperempat dari gajinya dalam sebulan bekerja bersama suaminya. Sang pemilik penjudian juga sangat senang karena bisa mendapatkan wanita seperti ibu Umbe, karena siapa yang akan menduga seorang ibu rumah tangga lulusan SD di desa terpencil akan menjual nomor togel. Dibekali sebuah handphone kecil hitam putih yang akan digunakannya untuk alat transaksi, dia berhenti bekerja bersama suaminya dan mulai membangun reputasinya sebagai wanita penjual nomor judi illegal atau togel.

Hampir 3 bulan sudah berlalu sejak ibu Umbe menerima pekerjaan berbahaya itu, setiap harinya ibu Umbe bisa melakukan dua sampai tiga transaksi, dia dan suaminya sudah mengumpulkan cukup uang untuk menebus motor dan warisan yang ia gadaikan. Saat itu ibu Umbe sudah sempat bepikir untuk berhenti menjual nomor togel, tetapi dia belum puas dengan apa yang dia hasilkan, dia masih ingin lebih. Walaupun sang suami sudah memperingatkan, tetap saja ibu Umbe berdiri teguh dengan pendiriannya untuk tetap menjual nomor togel. Satu bulan berlalu, ibu Umbe sudah tidak lagi pusing memikirkan apa yang bisa mereka makan untuk besok, ia bahkan bisa menyimpan uang hasil jual togel di tabungannya. Mereka tidak lagi perlu khawatir untuk menggadaikan harta mereka, sampai suatu saat dimana ibu Umbe baru menyadari bahwa reputasinya meledak, nama ibu Umbe menjadi perbincangan di desanya. Perasaan curiga para tetangga muncul, melihat keadaan rumah tangga ibu Umbe yang sudah kembali seperti semula. Tanpa disadari ibu Umbe selama beberapa bulan terakhir ini sudah membangun reputasinya terlalu luas, dia tidak berhati-hati dalam berjualan, dia secara asal menjual ke orang tanpa memikirkan konsekuensinya, dan dia sadar bahwa selama ini dia tidak memiliki cara untuk menutupi tindakan kriminalnya ini. Tetapi itu semua sudah terlambat, beberapa hari yang lalu, seorang tetangga yang iri, melihat ibu Umbe memberikan nomor di secarik kertas kepada orang asing, dan orang asing itu memberikan ibu Umbe uang yang berjumlah lumayan besar. Tanpa keraguan, tetangganya itu melaporkan ibu Umbe kepada kerabatnya yang bekerja sebagai polisi.

Siang itu, saat ibu Umbe sedang memasak di dapurnya, datang dua pria berseragam dengan lencana di dada mereka, mengetuk pintu, dan salah satunya menyebutkan nama ibu Umbe. Saat itu suami Ibu Umbe sedang bekerja dan hanya ada anak lelaki ibu Umbe yang sedang belajar dari rumah, dia keluar dan menyapa kedua pria tersebut. Ibu Umbe mengintip dari dapur yang terletak berseberangan dengan pintu depan rumahnya dan sadar bahwa ada dua orang polisi yang mencarinya, mendengar perbincangan kedua polisi itu dengan anaknya, Ibu Umbe berusaha bersembunyi, tetapi semua sudah terlambat, kedua polisi itu bersikeras untuk memeriksa rumahnya. Kedua polisi itu masuk dan menangkap basah ibu Umbe yang sedang berusaha menghubungi pemilik atau bandar togel yang memperkerjakannya. Tanpa berpikir panjang, kedua polisi langsung menyeret ibu Umbe keluar rumah, anaknya menangis tidak mengetahui kenapa ibunya ditangkap, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan dua polisi berbadan besar itu, dan semua tetangga melihat kericuhan yang terjadi.

Ibu Umbe dibawa ke kantor polisi dan ditaruh di dalam sel selama satu malam. Keesokan harinya ia baru di perbolehkan untuk menghubungi seseorang, dia menghubungi pemilik togel. Pemilik togel itu berkata kepada ibu Umbe untuk menunggu saja dengan sabar, dia akan menyelesaikan ini, katanya. Satu minggu ibu Umbe di tahan di sel kota, selama disana dia berpikir, dia merasa bersalah karena sudah melakukan pekerjaan yang tidak benar, tetapi di sisi lain dia juga senang karena merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya, sejak berjualan togel, keluarganya tidak lagi perlu memikirkan masalah uang. Setelah satu minggu, ibu Umbe berhasil keluar dari sel, “kamu boleh keluar hari ini” kata polisi yang mengeluarkannya, tetapi ibu Umbe tahu ini pasti ulah dari sang bandar togel. Ibu Umbe langsung menuju kerumah dengan perasaan lega dan khawatir. Sesampai dirumah dia langsung memeluk anak dan suaminya, dan dia berjanji pada dirinya tidak akan melakukan pekerjaan semacam itu lagi, walaupun sang bandar togel masih menawarkan pekerjaan tersebut ke ibu Umbe. dengan tegas, dia bilang “Tidak!”

Hasil dari penjualan togel yang berhasil disembunyikan ibu Umbe di balik tembok dapurnya bisa membekali keluarganya selama dua bulan kedepan. Ibu Umbe mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lagi, tetapi kebingungan dan rasa takut terngiang di kepala ibu Umbe. Sampai pada suatu hari datanglah seorang pemuda dari pinggir kota dengan semangat membangun usaha yang memberdayakan tenaga wanita. Mendengar kisah dari desa Lilir mengenai seorang wanita yang ditangkap polisi akibat pekerjaanya yang illegal, pemuda itu langsung mencari alamat rumah ibu Umbe. Sesampainya disana, pemuda itu dengan antusiasnya menjelaskan usaha yang akan dia bangun, yaitu usaha kerajinan organik, dan dia menjelaskan betapa bersyukurnya jika dia bisa memperkerjakan seorang wanita yang pemberani, khususnya dengan latar belakang cerita seperti ibu Umbe, dan dia berkata, dua bulan lagi, akan ada sebuah acara pasar organik yang akan diselenggarakan di kota, dan jika ibu Umbe bersedia, dia berkenan untuk mengajak ibu Umbe ke acara tersebut. Ibu Umbe sempat berpikir dia tidak akan mampu, dia merasa tidak percaya diri karena dia hanya lulusan Sekolah Dasar, tetapi sifat pemberani ibu Umbe muncul setelah memikirkan keluarganya yang akan kesusahan. Tanpa ragu dia menerima tawaran dari si pemuda itu dan keesokan harinya mereka mulai bekerja sama. Pemuda itu terkejut dengan semangat kerja yang dimiliki ibu Umbe, kerajinan yang dihasilkan ibu Umbe sangat rapi dan bagus, pada bulan pertama mereka sudah berhasil memperoleh cukup stok untuk dijual pada acara yang akan datang.

Walaupun penuh dengan rasa gugup dan tidak percaya diri, ibu Umbe memberanikan diri untuk mengikuti pemuda itu ke acara yang dimana isinya penuh dengan orang asing atau mancanegara. Mereka mulai berjualan dari pagi sampai sore hari. Di pasar itu, ibu Umbe terkejut kerajinan yang dia buat sangat disukai para orang asing! Ketakutan dan ketidakpercayaan dirinya seketika digantikan oleh kesenangan dan semangat yang membara. Mereka hampir menjual semua stok yang mereka bawa, ibu Umbe pun diantar pulang dan mereka melanjutkan untuk bekerja lagi keesokan harinya, semangat ibu Umbe tidak pernah luntur, setiap hari karyanya
menjadi semakin bagus dan rapih. Pemuda itu juga menjual kerajinan ibu Umbe secara daring, produk mereka pun mendapatkan respon yang sangat bagus dari pasar. Tidak lama kemudian muncul banyak tawaran untuk bekerja sama dan tawaran untuk melakukan ekspor, mereka berdua tentu menerimanya dengan senang hati. Nama ibu Umbe sekali lagi menjadi perbincangan di desanya, tetapi kali ini sebagai perempuan yang hebat, berani dan dikagumi masyarakat. Kerajinan ibu Umbe saat ini sudah terjual di banyak negara, dan ibu Umbe juga menjadi panutan para wanita di desanya.

Oleh : I Gusti Ngurah Alexander

Ini merupakan cerita dari peserta program dan pemenang lomba cerpen mengenai Hari Perempuan Internasional tahun 2020.  

× Bagaimana Kami dapat membantu Anda