“Fik, uang buat beli kuota ada nggak?” tanya Mak kepadaku yang asyik memainkan ponsel di jendela. Mak sedang menyapu halaman samping rumah yang penuh dengan daun-daun gugur akibat hujan deras kemarin sore. “Ada, Mak. Kenapa?” jawabku tanpa memandang Mak. “Kalo nggak ada, Mak beliin nanti sehabis nanam padi. Sekalian ke pasar beli ikan buat lauk hari ini sama besok. Ikan aja ya, Fik. Uang hasil panen pari belum turun”. Perkataan Mak baru saja membuat mataku berbinar. Wajahku yang semula sayu karena terlalu lama di rumah menjadi sangat gembira.

Aku turun dari tempat tidurku untuk pergi mandi. Dari balik jendela aku berkata pada Mak. “Ada kok, Mak. Tapi aku ikut, ya. Udah lama nggak keluar.”

Mak menjawab sambil tetap menyapu. “Iya. Sana mandi. Jangan lupa, maskernya dipakai.” Aku bersorak seperti anak kecil dan segera pergi mandi. Tidak sampai 10 menit, aku selesai mandi dan cepat bersiap. “Yah…bedakku habis. Mau beli lagi tapi aku cuma punya uang buat beli alat tulis sama bensin. Minta Mak aja kali, ya?” keluhku melihat wadah bedak berbentuk bulat yang sudah tak ada isinya.

“Eh, enggak deh!” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Uang Mak kan, cuma cukup buat beli makan sama kebutuhan sekolah aku. Bedak juga nggak terlalu penting. Toh, pakai masker nggak kelihatan mukaku.” Ujarku pada diri sendiri di depan cermin.

“Ah, andai Pak’e masih ada disini. Mak nggak perlu capek-capek kerja sendiri disawah.” Aku memakai maskerku sambil memandang sebuah foto yang terdiri dari 3 orang sebelum beranjak keluar kamar.

Usiaku memang baru 14 tahun alias menduduki bangku sekolah menengah pertama kelas 2, tapi keberanian dan tekadku cukup besar, termasuk kemampuanku mengendarai motor. Skill mengendarai motor memang dibutuhkan di desa tempat tinggalku karena jarak rumah warga rata-rata jauh dari kios perbelanjaan dan tempat umum lainnya. Namun, aku bersyukur karena jarak sekolah yang dekat dengan rumah. Itulah yang menjadikan aku semangat belajar demi memboyong Mak menuju hidup yang lebih baik.

Jarak rumah dengan pasar cukup jauh dengan jalan yang berkelak-kelok. Maklum, jalan pedesaan. Aku membunyikan klakson pada tukang parkir bernama Fendi yang merupakan teman sekolah dari sepupuku, Mas Hadi. Ia menjadi tukang parkir sementara dipasar menggantikan bapaknya yang menjadi tukang sayur dadakan selama pandemi ini. “Tumben, siang datangnya, Fik.” Ucap Fendi sambil terkekeh. Mak turun dari motor dengan
perlahan. Mak malas sekali menggunakan helm kemanapun itu kecuali jika pergi ke kota. Aku sudah mengingatkan pada Mak kalau kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, namun malah dijawab seperti ini. “Makmu ini kan wanita yang kuat. Kecelakaan paling lecet doang.” Sambil berlalu dan naik ke atas motor. Aku tertawa dengan posisi tangan menggantung karena menyerahkan helm yang ditolak oleh Mak.

Aku kini menunggu Mak yang berbelanja diatas motor ditemani Mas Fendi yang sesekali bertugas. “Dah lama banget nggak kesini, Fik. Nggak ada apa-apa, kan?” Fendi membuka pembicaraan sambil mengibas-ngibaskan tangannya di leher. “Aman. Mak cuma nggak kena Covid. Eh, akhirnya bodoamat sama Covid. Sering bilang ke aku suruh pakai masker, sendirinya nggak pernah pake.” Aku sedikit merengut sambil terus memainkan ponselku.

“Haha, Mak-mak kan emang gitu. Maklum aja. Untung aja kamu nggak apa-apa. Sabar ya, Fik. Bahagia butuh proses.” Jawab Fendi sambil tersenyum diatas motor orang. Senyumnya yang manis dengan bekas jerawat di dekat lesung pipinya membuat aku tertegun.

Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan karena wajahku yang memerah dan memasukkan ponselku ke dalam saku celana saat melihat Mak kembali. Fendi terkejut melihat kehadiran Mak.

“Loh, cepat banget, Mbokde?” kening Fendi berkerut.

“Lah, emang harus berapa lama? 90 menit? Mbokde ya nggak kuat berdiri sampai 90 menit. Kamu pikir bal-balan?” tukas Mak yang sukses membuat aku dan Fendi tertawa. Aku berpamitan dengan Fendi sebelum kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku dan Mak langsung membersihkan diri. Hanya Mak yang mandi sedangkan aku diminta untuk menyiapkan bahan-bahan memasak. Ada satu plastik berisi sekitar 7 ekor ikan lele kecil. Dua plastik lainnya berisi wader dan 1 nila yang cukup besar. “Bukannya harga nila mahal,ya? Kenapa Mak malah beli nila?” tanyaku lirih melihat ikan nila itu. Aku lantas tidak memikirkannya dan memilih untuk membersihkan ikan-ikan itu dipawon.

Selang beberapa menit, Mak selesai mandi dan bahan-bahan untuk memasak sudah siap. “Loh, daun jeruknya mana?” tanya Mak padaku dengan handuk yang masih berada dipundak kirinya. “Nggak ada.” Aku memonyongkan bibirku mencoba menjelaskan bahwa tidak ada daun jeruk. “Kan di teras depan ada, Safika Widyaningrum. Lupa kalau kamu yang nanam?” jawab Mak sambil berlalu meninggalkan aku yang melongo. Ah, benar juga. Ada pohon jeruk purut yang kutanam beberapa bulan yang lalu untuk tugas sekolah. Daunnya bisa
digunakan sebagai bahan masakan. Setelah melesat mengambil daun jeruk, aku kembali ke pawon untuk membantu Mak menyiapkan makan siang.

“Nanti sehabis makan, antar ini ke Pakde Syam, ya. Bilang juga, maaf Pakde, cuma sedikit. Mak gajinya belum turun, jadi bikinnya seadanya.” Menyodorkan plastik kecil berisi lele-lele kecil yang aku bantu bungkus tadi. Pakde Syam adalah kakak dari Pak’e yang tinggal sendirian dan kurang mampu. Sudah tidak memiliki pasangan hidup dan bekerja sebagai petan adalah ciri yang sama dari mereka berdua. Aku sebenarnya tidak suka kalau Mak membagi-bagi makanan atau hal lainnya dengan Pakde karena terasa kurang.

“Mak ngerti. Kamu nggak suka kan kalo apa-apanya kebagi. Maaf ya, Fik. Ini semua Mak lakuin juga demi Pak’e. Kamu tahu nggak kalo Pak’e nitipin kamu sama Pakde di Mak. Nggak tahu, kan?” Aku yang duduk di lantai menatap Mak sambil menggeleng.

Nah, itu yang mau Mak bilang ke kamu. Pak’e bilang ke Mak kalau harus nyekolahin kamu yang benar sampai bisa dapat pekerjaan yang lumayan dan halal. Juga, mbantu Pakde semampu Mak. Ya, yang Mak mampu cuma ini, jadi Mak lakuin aja walau harus sedikit nyusahin kamu. Maaf ya, Fik, Mak nggak pernah bilang.” Ucap Mak dengan logat khas “Jogja” nya. Rasanya aku ingin menangis mendengar pesan Pak’e yang dititipkan pada Mak.
Aku merasa kasihan pada Mak yang sudah bekerja keras melakukan ini itu untukku yang belum jadi apa-apa. Aku menahan tangisku dengan mengambil ponselku tapi tidak bisa karena tangisku langsung pecah setelah melihat fotoku dengan Mak yang aku jadikan wallpaper ponsel. Aku langsung memeluk Mak yang terkejut. “Loh, kok nangis? Nggak usah nangis, ah. Cengeng.” Mengusap-usap kepalaku yang tertutup jilbab. “Aku nggak nangis, Mak! Aku terharu!” kilahku sambil memeluk Mak erat-erat. “Aku minta maaf belum bisa bahagiain, Mak. Aku belum bisa berangkatin haji Mak. Aku… aku…” tersedu-sedu di pelukan Mak. Mak mendorongku perlahan. “Suut… nggak boleh nangis, Fik. Mak senang kalau kamu sadar belum bisa bahagiain Mak. Nggak papa. Belum waktunya kamu jadi kupu-kupu. Kamu masih harus melewati fase dimana kamu jadi kepompong. Bahagia butuh proses, Fik.” Ucap Mak menenangkan aku dengan kata-kata yang sama dengan Mas Fendi tadi. “Mak juga minta maaf karena belum bisa ngasih kamu yang terbaik. Cuma ini yang Mak bisa. Sekali lagi, Mak senang kalau kamu sadar. Tapi, ada satu hal yang bikin Mak lebih senang.” Ujar Mak panjang lebar. “A… pa…m…akkk…” tanyaku di sela-sela tangisku. “Kamu yang penurut dan nggak minta lebih dari apa yang kamu punya. Mak senang kalau kamu bisa mengatur kebutuhan kamu. Mak juga senang kamu bisa mandiri dan mbantuin Mak dengan ikhlas. Gitu aja Mak udah senang kok, Fik. Tetap jadi anak baik dan nurut sama Mak, ya. Insya Allah, berkah buat anak sholehah kayak kamu.” Mencium keningku dengan lembut. Aku terdiam setelah Mak menciumku. Rasanya benar-benar hangat dan damai oleh ciuman yang sudah lama tak kurasakan. Ya Allah… ternyata selama ini aku benar-benar jauh dari Mak. Sekali lagi aku memeluk Mak dan menangis sambil berulang kali meminta maaf. Mak menepuk-nepuk punggungku menyuruhku tenang dan tidak usah menangis lagi.

Aku masih tersedu-sedu sambil memandang Mak yang tersenyum. Dari luar kamar, aku dapat melihat foto aku, Pak’e, dan Mak yang kuletakkan di meja riasku. “Pak, semoga Mak bisa jaga amanah Pak’e terus buat njaga aku sama Pakde. Mak hebat, Pak, sudah sampai sejauh ini. Aku bersyukur punya ibu seperti Mak yang tetap dermawan walau keadaannya sendiri juga tengah kesusahan.” Ucapku dalam hati kepada Pak’e. Yang lebih aku syukuri lagi, Pak’e meninggal karena kecelakaan, bukan karena terkena Covid. Sehingga, aku dan Mak masih bisa mengantar beliau ke peristirahatannya yang terakhir dan mendoakan beliau. “Husnul khotimah, Pak. Anakmu sudah gede. Mandiri dan mau mbantu Maknya yang susah. Haha, pandemi jadi menyusahkan ya, Pak. Untung aja masih ada Fika yang bisa mbantu Mak.” Ujar Mak yang mengagetkanku. Seperti dapat membaca pikiranku, Mak mengatakan itu. Lagi-lagi aku bersyukur karena memiliki Mak yang hebat.

“Perempuan sebenarnya adalah sosok yang sangat kuat, bahkan saat dihantam ribuan badai tantangan sekalipun. Pandemi nampaknya juga bukan perkara yang menyulitkan mereka, justru semakin menguatkan ambisi mereka yang sama sekali tidak pernah bergerak turun.”
Magelang, 08 Maret 2021

Oleh : Oktorini Rahmadina Tyasti

Ini merupakan cerita dari peserta program dan pemenang lomba cerpen mengenai Hari Perempuan Internasional tahun 2020.

× Bagaimana Kami dapat membantu Anda