FGD tentang pengalaman tidak menyenangkan di Promosan

FGD tentang pengalaman tidak menyenangkan di Promosan

ooo.. ternyata ada juga ya yang gak suka ya kalo ditoyor kepalanya, padahal aku sering digituin,” tukas salah seorang anak

aku juga pernah nih, dapet pesan aneh dari orang yang gak ku kenal di media sosial, nyebelin banget,” ungkap anak lainnya.

Begitulah suasana dan tanggapan dari anak-anak SMP Katolik Kemasyarakatan Kalibawang, Kulon Progo. Anak-anak secara terbuka dan berani mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan yang dialami di lingkungan sekolah ataupun di rumah pada Focus Group Discussion (FGD) tentang Kekerasan Berbasis Gender di Sekolah. FGD yang dilakukan pada hari Kamis 2 Juni lalu menjadi oleh-oleh bagi upaya pencegahan dan perlindungan Kekerasan Berbasis Gender khususnya di Yogyakarta khususnya di Kabupaten Kulon Progo.

Pada tahun ini Gembala Baik Yogyakarta bekerjasama dengan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Kulon Progo tengah melaksanakan progam Pendekatan Berbasis Hak dalam upaya Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Berbasis Gender. Program ini dilakukan di 2 sekolah di Kulon Progo. Salah satunya yaitu SMPK Kemasyarakatan Promasan, Kalibawang.

Agenda kegiatan diawali dengan melakukan studi kualitatif bersama anak-anak untuk menggali pengalaman tidak menyenangkan di sekolah dan di lingkungan tempat tinggalnya. Dengan tujuan mendapatkan gambaran situasi terkini terkait dengan kekerasan dan kekerasan berbasis gender yang tengah terjadi. Hal ini akan ditindaklanjuti dengan strategi lanjutan dalam upaya menghentikan kekerasan di sekolah ataupun Menyusun strategi penanganan kasus yang lebih dekat dengan anak.

“Anak-anak menyampaikan bahwa, salami ini jika terjadi sesatu yang kurang menyenangkan, anak-anak tadi menyampaikan bahwa mereka memilih untuk diam saja, memendam semua sendiri, atau sesekali bercerita dengan teman sebayanya atau juga orang tuanya, namu kerap kali kejadian yang tidak menyenangkan ini masih terjadi lagi,” terang Pipit, tim pendamping dari Gembala Baik.

Menurut Pipit lagi, suara anak ini lah yang akan menjadi dasar untuk membuat system pencegahan dan  penanganan kasus kekerasan terhadap anak yang mudah dijangkau, bersahabat dan tepat bagi anak.

Kegiatan yang dilakukan secara partisipatif bersama Sr. Theresia Kurniawati, dan tim pendamping di Gembala Baik Yogyakarta.

Ibu Yang Bertanggung Jawab

Ibu Yang Bertanggung Jawab

Dia sibuk, memencet angka di gadgetnya, Ia mencatat beberapa nomor yang akan dia jual ke orang-orang di desanya, sembari mencatat, dia melawan hukuman yang tertera di lingkungannya. Dengan handphone kecilnya dia melawan aturan untuk menghidupi keluarganya. Di pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, lebih tepatnya, Desa Lilir, di desa yang terpencil itu dia dikenal sebagai ibu Umbe, wanita penjual nomor judi illegal atau togel.

Tiga bulan sudah berlalu sejak virus dari Wuhan, Cina tersebut menyentuh pulau Lombok. Ibu Umbe yang dulunya bekerja sebagai pembuat kerajinan tangan dari bambu yang dia jual di pasar, kini harus ikut bekerja bersama suaminya sebagai tukang bangunan. Pelanggan ibu Umbe sudah tidak seperti dulu, bahkan tidak mencapai setengahnya karena pasar sangat sepi, kondisi itu mengharuskannya untuk mengambil pekerjaan lain guna memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Selama empat bulan ibu Umbe bekerja bersama suaminya, tetapi ibu Umbe harus diberhentikan dengan paksa karena proyek bangunan berusaha mengurangi tenaga kerjanya. Ibu Umbe tahu jika dia tidak bekerja dia tidak akan bisa menghidupi anaknya, dan juga dia sedih melihat suaminya yang harus banting tulang bekerja dari pagi sampai malam. Ibu Umbe bertanya-tanya kepada kerabat dan keluarganya apakah ada pekerjaan yang bisa ia ambil. Berita ibu Umbe mencari pekerjaan mencapai telinga kerabatnya yang tinggal di dekat kota, Ibu Umbe mengharapkan pekerjaan yang tidak terlalu melibatkan menulis dan menghitung, tetapi apa yang ditawarkan oleh kerabatnya adalah sebagai penjual nomor toto gelap/togel di tempat penjudian sang kerabat biasa bermain. Ibu Umbe tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusannya karena dia tahu bahwa itu adalah pekerjaan yang berbahaya.

Tetapi godaan sangat berat bagi ibu Umbe, selama pandemi ini, dia dan keluarganya merasakan krisis ekonomi yang sangat parah, dia terpaksa menggadaikan satu buah motor dan beberapa warisan keluarga hanya untuk mendapatkan uang makan sehari-hari, belum lagi biaya sekolah anak lelakinya. “Sebelum corona saja kita udah miskin, apalagi sekarang” cetus ibu Umbe kepada suaminya. Suaminya tidak bisa melakukan apa-apa karena ia juga tahu bahwa mereka sedang susah. Dengan ragu tetapi beraninya, dia memutuskan untuk mengambil pekerjaan sebagai penjual nomor togel, ia menghubungi kerabatnya dan bersama-sama mereka pergi ke tempat penjudian. Sesampai disana, dia sangat senang mendengar jumlah uang yang ditawarkan kepadanya, dalam sekali transaksi, ibu Umbe bisa memperoleh seperempat dari gajinya dalam sebulan bekerja bersama suaminya. Sang pemilik penjudian juga sangat senang karena bisa mendapatkan wanita seperti ibu Umbe, karena siapa yang akan menduga seorang ibu rumah tangga lulusan SD di desa terpencil akan menjual nomor togel. Dibekali sebuah handphone kecil hitam putih yang akan digunakannya untuk alat transaksi, dia berhenti bekerja bersama suaminya dan mulai membangun reputasinya sebagai wanita penjual nomor judi illegal atau togel.

Hampir 3 bulan sudah berlalu sejak ibu Umbe menerima pekerjaan berbahaya itu, setiap harinya ibu Umbe bisa melakukan dua sampai tiga transaksi, dia dan suaminya sudah mengumpulkan cukup uang untuk menebus motor dan warisan yang ia gadaikan. Saat itu ibu Umbe sudah sempat bepikir untuk berhenti menjual nomor togel, tetapi dia belum puas dengan apa yang dia hasilkan, dia masih ingin lebih. Walaupun sang suami sudah memperingatkan, tetap saja ibu Umbe berdiri teguh dengan pendiriannya untuk tetap menjual nomor togel. Satu bulan berlalu, ibu Umbe sudah tidak lagi pusing memikirkan apa yang bisa mereka makan untuk besok, ia bahkan bisa menyimpan uang hasil jual togel di tabungannya. Mereka tidak lagi perlu khawatir untuk menggadaikan harta mereka, sampai suatu saat dimana ibu Umbe baru menyadari bahwa reputasinya meledak, nama ibu Umbe menjadi perbincangan di desanya. Perasaan curiga para tetangga muncul, melihat keadaan rumah tangga ibu Umbe yang sudah kembali seperti semula. Tanpa disadari ibu Umbe selama beberapa bulan terakhir ini sudah membangun reputasinya terlalu luas, dia tidak berhati-hati dalam berjualan, dia secara asal menjual ke orang tanpa memikirkan konsekuensinya, dan dia sadar bahwa selama ini dia tidak memiliki cara untuk menutupi tindakan kriminalnya ini. Tetapi itu semua sudah terlambat, beberapa hari yang lalu, seorang tetangga yang iri, melihat ibu Umbe memberikan nomor di secarik kertas kepada orang asing, dan orang asing itu memberikan ibu Umbe uang yang berjumlah lumayan besar. Tanpa keraguan, tetangganya itu melaporkan ibu Umbe kepada kerabatnya yang bekerja sebagai polisi.

Siang itu, saat ibu Umbe sedang memasak di dapurnya, datang dua pria berseragam dengan lencana di dada mereka, mengetuk pintu, dan salah satunya menyebutkan nama ibu Umbe. Saat itu suami Ibu Umbe sedang bekerja dan hanya ada anak lelaki ibu Umbe yang sedang belajar dari rumah, dia keluar dan menyapa kedua pria tersebut. Ibu Umbe mengintip dari dapur yang terletak berseberangan dengan pintu depan rumahnya dan sadar bahwa ada dua orang polisi yang mencarinya, mendengar perbincangan kedua polisi itu dengan anaknya, Ibu Umbe berusaha bersembunyi, tetapi semua sudah terlambat, kedua polisi itu bersikeras untuk memeriksa rumahnya. Kedua polisi itu masuk dan menangkap basah ibu Umbe yang sedang berusaha menghubungi pemilik atau bandar togel yang memperkerjakannya. Tanpa berpikir panjang, kedua polisi langsung menyeret ibu Umbe keluar rumah, anaknya menangis tidak mengetahui kenapa ibunya ditangkap, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk menghentikan dua polisi berbadan besar itu, dan semua tetangga melihat kericuhan yang terjadi.

Ibu Umbe dibawa ke kantor polisi dan ditaruh di dalam sel selama satu malam. Keesokan harinya ia baru di perbolehkan untuk menghubungi seseorang, dia menghubungi pemilik togel. Pemilik togel itu berkata kepada ibu Umbe untuk menunggu saja dengan sabar, dia akan menyelesaikan ini, katanya. Satu minggu ibu Umbe di tahan di sel kota, selama disana dia berpikir, dia merasa bersalah karena sudah melakukan pekerjaan yang tidak benar, tetapi di sisi lain dia juga senang karena merasa bertanggung jawab terhadap keluarganya, sejak berjualan togel, keluarganya tidak lagi perlu memikirkan masalah uang. Setelah satu minggu, ibu Umbe berhasil keluar dari sel, “kamu boleh keluar hari ini” kata polisi yang mengeluarkannya, tetapi ibu Umbe tahu ini pasti ulah dari sang bandar togel. Ibu Umbe langsung menuju kerumah dengan perasaan lega dan khawatir. Sesampai dirumah dia langsung memeluk anak dan suaminya, dan dia berjanji pada dirinya tidak akan melakukan pekerjaan semacam itu lagi, walaupun sang bandar togel masih menawarkan pekerjaan tersebut ke ibu Umbe. dengan tegas, dia bilang “Tidak!”

Hasil dari penjualan togel yang berhasil disembunyikan ibu Umbe di balik tembok dapurnya bisa membekali keluarganya selama dua bulan kedepan. Ibu Umbe mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lagi, tetapi kebingungan dan rasa takut terngiang di kepala ibu Umbe. Sampai pada suatu hari datanglah seorang pemuda dari pinggir kota dengan semangat membangun usaha yang memberdayakan tenaga wanita. Mendengar kisah dari desa Lilir mengenai seorang wanita yang ditangkap polisi akibat pekerjaanya yang illegal, pemuda itu langsung mencari alamat rumah ibu Umbe. Sesampainya disana, pemuda itu dengan antusiasnya menjelaskan usaha yang akan dia bangun, yaitu usaha kerajinan organik, dan dia menjelaskan betapa bersyukurnya jika dia bisa memperkerjakan seorang wanita yang pemberani, khususnya dengan latar belakang cerita seperti ibu Umbe, dan dia berkata, dua bulan lagi, akan ada sebuah acara pasar organik yang akan diselenggarakan di kota, dan jika ibu Umbe bersedia, dia berkenan untuk mengajak ibu Umbe ke acara tersebut. Ibu Umbe sempat berpikir dia tidak akan mampu, dia merasa tidak percaya diri karena dia hanya lulusan Sekolah Dasar, tetapi sifat pemberani ibu Umbe muncul setelah memikirkan keluarganya yang akan kesusahan. Tanpa ragu dia menerima tawaran dari si pemuda itu dan keesokan harinya mereka mulai bekerja sama. Pemuda itu terkejut dengan semangat kerja yang dimiliki ibu Umbe, kerajinan yang dihasilkan ibu Umbe sangat rapi dan bagus, pada bulan pertama mereka sudah berhasil memperoleh cukup stok untuk dijual pada acara yang akan datang.

Walaupun penuh dengan rasa gugup dan tidak percaya diri, ibu Umbe memberanikan diri untuk mengikuti pemuda itu ke acara yang dimana isinya penuh dengan orang asing atau mancanegara. Mereka mulai berjualan dari pagi sampai sore hari. Di pasar itu, ibu Umbe terkejut kerajinan yang dia buat sangat disukai para orang asing! Ketakutan dan ketidakpercayaan dirinya seketika digantikan oleh kesenangan dan semangat yang membara. Mereka hampir menjual semua stok yang mereka bawa, ibu Umbe pun diantar pulang dan mereka melanjutkan untuk bekerja lagi keesokan harinya, semangat ibu Umbe tidak pernah luntur, setiap hari karyanya
menjadi semakin bagus dan rapih. Pemuda itu juga menjual kerajinan ibu Umbe secara daring, produk mereka pun mendapatkan respon yang sangat bagus dari pasar. Tidak lama kemudian muncul banyak tawaran untuk bekerja sama dan tawaran untuk melakukan ekspor, mereka berdua tentu menerimanya dengan senang hati. Nama ibu Umbe sekali lagi menjadi perbincangan di desanya, tetapi kali ini sebagai perempuan yang hebat, berani dan dikagumi masyarakat. Kerajinan ibu Umbe saat ini sudah terjual di banyak negara, dan ibu Umbe juga menjadi panutan para wanita di desanya.

Oleh : I Gusti Ngurah Alexander

Ini merupakan cerita dari peserta program dan pemenang lomba cerpen mengenai Hari Perempuan Internasional tahun 2020.  

Kunjungan Kerjasama Gembala Baik Dan DinsosPPPA Kulon Progo Bersama Sekolah Menengah Di Kulon Progo

Kunjungan Kerjasama Gembala Baik Dan DinsosPPPA Kulon Progo Bersama Sekolah Menengah Di Kulon Progo

Kulon Progo, Rabu (11/5/2022) Gembala Baik Yogyakarta bersama Dinas Sosial Perlindungan Perempuan dan Anak melakukan audiensi dan kunjungan kerjasama ke sekolah menengah di Kulon Progo. Dalam rangka program pencegahan kekerasan berbasis gender di lingkungan sekolah di Kabupaten Kulon Progo, Gembala Baik bekerjasama dengan DinsosPPPA Kabupaten Kulonprogo untuk menjangkau sekolah-sekolah yang berlokasi di Kabupaten Kulon Progo.

2 (dua) sekolah menengah itu antara lain SMPK Promasan dan SMA Sanjaya Kulon Progo akan menjadi sekolah pioner sebagai sekolah dampingan Gembala Baik Yogyakarta bersama dengan DinsosPPPA Kulon Progo.

Gabriela Pipit, Anggara Putra, Anne Loreta dari Gembala Baik bersama Sri Lestari (Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak Dinsos PPPA Kabupaten Kulonprogo), pasca diskusi bersama di kantor DinsosPPPA Kabupaten  Kulon Progo bertolak menuju ke SMA Sanjaya di Nanggulan dan SMPK Kemasyarakatan Promasan. Menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit dari area perkantoran kabupaten Kulon Progo, kunjungan disambut baik oleh Ibu Wahyu, penanggungjawab bidang kurikulum di SMA Sanjaya. Ibu Wahyu, menyampaikan rasa syukurnya atas rencana kerjasama yang disampaikan oleh pihak DinsosPPPA Kulon Progo sebagai bentuk upaya mendorong Kabupaten Layak Anak, sekaligus menjawab keprihatinan atas tingginya kasus Perkawinan Anak di Yogyakarta khususnya di Kulon Progo dan risiko perundungan di sekolah seperti yang disampaikan oleh Pipit dan Anggara sebagai tujuan kerjasama ini.

Kunjungan berlanjut ke SMPK Kemasyarakatan di Promasan Kulon Progo, 20 menit perjalanan dari titik lokasi SMA Sanjaya Nanggulan. Sekolah menengah pertama dengan akreditasi A ini terletak dalam satu komplek dengan Gereja paroki Promasan. Kedatangan tim kali ini disambut baik oleh Ibu Kepala Sekolah SMPK Promasan Ibu Yoanna Puji Rahayu, Spd. Demikian kerjasama untuk melakukan pencegahan kekerasan berbasis gender termasuk perundungan dan pencegahan perkawinan usia anak di Kabupaten Kulon Progo secara khusus melalui SMPK Kemasyarakatan Promasan ini mendapat kesepakatan.

Melalui program ini Gembala Baik Yogyakarta bersama Dinas Sosial PPPA maupun sekolah dan para pihak akan melakukan studi bersama mengenai kekerasan berbasis gender di sekolah, melakukan pelatihan bagi para siswa dan guru dalam menyiapkan konselor sebaya serta managemen sederhana dalam upaya pencegahan dan penanganan kasus kekerasan di sekolah. Sekaligus mendorong pemerintah daerah Kabupaten Kulon Progo dalam mewujudkan Sekolah Ramah Anak dan Kabupaten Layak Anak.

Mak Hebat, Mak Kuat

Mak Hebat, Mak Kuat

“Fik, uang buat beli kuota ada nggak?” tanya Mak kepadaku yang asyik memainkan ponsel di jendela. Mak sedang menyapu halaman samping rumah yang penuh dengan daun-daun gugur akibat hujan deras kemarin sore. “Ada, Mak. Kenapa?” jawabku tanpa memandang Mak. “Kalo nggak ada, Mak beliin nanti sehabis nanam padi. Sekalian ke pasar beli ikan buat lauk hari ini sama besok. Ikan aja ya, Fik. Uang hasil panen pari belum turun”. Perkataan Mak baru saja membuat mataku berbinar. Wajahku yang semula sayu karena terlalu lama di rumah menjadi sangat gembira.

Aku turun dari tempat tidurku untuk pergi mandi. Dari balik jendela aku berkata pada Mak. “Ada kok, Mak. Tapi aku ikut, ya. Udah lama nggak keluar.”

Mak menjawab sambil tetap menyapu. “Iya. Sana mandi. Jangan lupa, maskernya dipakai.” Aku bersorak seperti anak kecil dan segera pergi mandi. Tidak sampai 10 menit, aku selesai mandi dan cepat bersiap. “Yah…bedakku habis. Mau beli lagi tapi aku cuma punya uang buat beli alat tulis sama bensin. Minta Mak aja kali, ya?” keluhku melihat wadah bedak berbentuk bulat yang sudah tak ada isinya.

“Eh, enggak deh!” aku menggeleng-gelengkan kepalaku. “Uang Mak kan, cuma cukup buat beli makan sama kebutuhan sekolah aku. Bedak juga nggak terlalu penting. Toh, pakai masker nggak kelihatan mukaku.” Ujarku pada diri sendiri di depan cermin.

“Ah, andai Pak’e masih ada disini. Mak nggak perlu capek-capek kerja sendiri disawah.” Aku memakai maskerku sambil memandang sebuah foto yang terdiri dari 3 orang sebelum beranjak keluar kamar.

Usiaku memang baru 14 tahun alias menduduki bangku sekolah menengah pertama kelas 2, tapi keberanian dan tekadku cukup besar, termasuk kemampuanku mengendarai motor. Skill mengendarai motor memang dibutuhkan di desa tempat tinggalku karena jarak rumah warga rata-rata jauh dari kios perbelanjaan dan tempat umum lainnya. Namun, aku bersyukur karena jarak sekolah yang dekat dengan rumah. Itulah yang menjadikan aku semangat belajar demi memboyong Mak menuju hidup yang lebih baik.

Jarak rumah dengan pasar cukup jauh dengan jalan yang berkelak-kelok. Maklum, jalan pedesaan. Aku membunyikan klakson pada tukang parkir bernama Fendi yang merupakan teman sekolah dari sepupuku, Mas Hadi. Ia menjadi tukang parkir sementara dipasar menggantikan bapaknya yang menjadi tukang sayur dadakan selama pandemi ini. “Tumben, siang datangnya, Fik.” Ucap Fendi sambil terkekeh. Mak turun dari motor dengan
perlahan. Mak malas sekali menggunakan helm kemanapun itu kecuali jika pergi ke kota. Aku sudah mengingatkan pada Mak kalau kecelakaan bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, namun malah dijawab seperti ini. “Makmu ini kan wanita yang kuat. Kecelakaan paling lecet doang.” Sambil berlalu dan naik ke atas motor. Aku tertawa dengan posisi tangan menggantung karena menyerahkan helm yang ditolak oleh Mak.

Aku kini menunggu Mak yang berbelanja diatas motor ditemani Mas Fendi yang sesekali bertugas. “Dah lama banget nggak kesini, Fik. Nggak ada apa-apa, kan?” Fendi membuka pembicaraan sambil mengibas-ngibaskan tangannya di leher. “Aman. Mak cuma nggak kena Covid. Eh, akhirnya bodoamat sama Covid. Sering bilang ke aku suruh pakai masker, sendirinya nggak pernah pake.” Aku sedikit merengut sambil terus memainkan ponselku.

“Haha, Mak-mak kan emang gitu. Maklum aja. Untung aja kamu nggak apa-apa. Sabar ya, Fik. Bahagia butuh proses.” Jawab Fendi sambil tersenyum diatas motor orang. Senyumnya yang manis dengan bekas jerawat di dekat lesung pipinya membuat aku tertegun.

Aku cepat-cepat mengalihkan pandangan karena wajahku yang memerah dan memasukkan ponselku ke dalam saku celana saat melihat Mak kembali. Fendi terkejut melihat kehadiran Mak.

“Loh, cepat banget, Mbokde?” kening Fendi berkerut.

“Lah, emang harus berapa lama? 90 menit? Mbokde ya nggak kuat berdiri sampai 90 menit. Kamu pikir bal-balan?” tukas Mak yang sukses membuat aku dan Fendi tertawa. Aku berpamitan dengan Fendi sebelum kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, aku dan Mak langsung membersihkan diri. Hanya Mak yang mandi sedangkan aku diminta untuk menyiapkan bahan-bahan memasak. Ada satu plastik berisi sekitar 7 ekor ikan lele kecil. Dua plastik lainnya berisi wader dan 1 nila yang cukup besar. “Bukannya harga nila mahal,ya? Kenapa Mak malah beli nila?” tanyaku lirih melihat ikan nila itu. Aku lantas tidak memikirkannya dan memilih untuk membersihkan ikan-ikan itu dipawon.

Selang beberapa menit, Mak selesai mandi dan bahan-bahan untuk memasak sudah siap. “Loh, daun jeruknya mana?” tanya Mak padaku dengan handuk yang masih berada dipundak kirinya. “Nggak ada.” Aku memonyongkan bibirku mencoba menjelaskan bahwa tidak ada daun jeruk. “Kan di teras depan ada, Safika Widyaningrum. Lupa kalau kamu yang nanam?” jawab Mak sambil berlalu meninggalkan aku yang melongo. Ah, benar juga. Ada pohon jeruk purut yang kutanam beberapa bulan yang lalu untuk tugas sekolah. Daunnya bisa
digunakan sebagai bahan masakan. Setelah melesat mengambil daun jeruk, aku kembali ke pawon untuk membantu Mak menyiapkan makan siang.

“Nanti sehabis makan, antar ini ke Pakde Syam, ya. Bilang juga, maaf Pakde, cuma sedikit. Mak gajinya belum turun, jadi bikinnya seadanya.” Menyodorkan plastik kecil berisi lele-lele kecil yang aku bantu bungkus tadi. Pakde Syam adalah kakak dari Pak’e yang tinggal sendirian dan kurang mampu. Sudah tidak memiliki pasangan hidup dan bekerja sebagai petan adalah ciri yang sama dari mereka berdua. Aku sebenarnya tidak suka kalau Mak membagi-bagi makanan atau hal lainnya dengan Pakde karena terasa kurang.

“Mak ngerti. Kamu nggak suka kan kalo apa-apanya kebagi. Maaf ya, Fik. Ini semua Mak lakuin juga demi Pak’e. Kamu tahu nggak kalo Pak’e nitipin kamu sama Pakde di Mak. Nggak tahu, kan?” Aku yang duduk di lantai menatap Mak sambil menggeleng.

Nah, itu yang mau Mak bilang ke kamu. Pak’e bilang ke Mak kalau harus nyekolahin kamu yang benar sampai bisa dapat pekerjaan yang lumayan dan halal. Juga, mbantu Pakde semampu Mak. Ya, yang Mak mampu cuma ini, jadi Mak lakuin aja walau harus sedikit nyusahin kamu. Maaf ya, Fik, Mak nggak pernah bilang.” Ucap Mak dengan logat khas “Jogja” nya. Rasanya aku ingin menangis mendengar pesan Pak’e yang dititipkan pada Mak.
Aku merasa kasihan pada Mak yang sudah bekerja keras melakukan ini itu untukku yang belum jadi apa-apa. Aku menahan tangisku dengan mengambil ponselku tapi tidak bisa karena tangisku langsung pecah setelah melihat fotoku dengan Mak yang aku jadikan wallpaper ponsel. Aku langsung memeluk Mak yang terkejut. “Loh, kok nangis? Nggak usah nangis, ah. Cengeng.” Mengusap-usap kepalaku yang tertutup jilbab. “Aku nggak nangis, Mak! Aku terharu!” kilahku sambil memeluk Mak erat-erat. “Aku minta maaf belum bisa bahagiain, Mak. Aku belum bisa berangkatin haji Mak. Aku… aku…” tersedu-sedu di pelukan Mak. Mak mendorongku perlahan. “Suut… nggak boleh nangis, Fik. Mak senang kalau kamu sadar belum bisa bahagiain Mak. Nggak papa. Belum waktunya kamu jadi kupu-kupu. Kamu masih harus melewati fase dimana kamu jadi kepompong. Bahagia butuh proses, Fik.” Ucap Mak menenangkan aku dengan kata-kata yang sama dengan Mas Fendi tadi. “Mak juga minta maaf karena belum bisa ngasih kamu yang terbaik. Cuma ini yang Mak bisa. Sekali lagi, Mak senang kalau kamu sadar. Tapi, ada satu hal yang bikin Mak lebih senang.” Ujar Mak panjang lebar. “A… pa…m…akkk…” tanyaku di sela-sela tangisku. “Kamu yang penurut dan nggak minta lebih dari apa yang kamu punya. Mak senang kalau kamu bisa mengatur kebutuhan kamu. Mak juga senang kamu bisa mandiri dan mbantuin Mak dengan ikhlas. Gitu aja Mak udah senang kok, Fik. Tetap jadi anak baik dan nurut sama Mak, ya. Insya Allah, berkah buat anak sholehah kayak kamu.” Mencium keningku dengan lembut. Aku terdiam setelah Mak menciumku. Rasanya benar-benar hangat dan damai oleh ciuman yang sudah lama tak kurasakan. Ya Allah… ternyata selama ini aku benar-benar jauh dari Mak. Sekali lagi aku memeluk Mak dan menangis sambil berulang kali meminta maaf. Mak menepuk-nepuk punggungku menyuruhku tenang dan tidak usah menangis lagi.

Aku masih tersedu-sedu sambil memandang Mak yang tersenyum. Dari luar kamar, aku dapat melihat foto aku, Pak’e, dan Mak yang kuletakkan di meja riasku. “Pak, semoga Mak bisa jaga amanah Pak’e terus buat njaga aku sama Pakde. Mak hebat, Pak, sudah sampai sejauh ini. Aku bersyukur punya ibu seperti Mak yang tetap dermawan walau keadaannya sendiri juga tengah kesusahan.” Ucapku dalam hati kepada Pak’e. Yang lebih aku syukuri lagi, Pak’e meninggal karena kecelakaan, bukan karena terkena Covid. Sehingga, aku dan Mak masih bisa mengantar beliau ke peristirahatannya yang terakhir dan mendoakan beliau. “Husnul khotimah, Pak. Anakmu sudah gede. Mandiri dan mau mbantu Maknya yang susah. Haha, pandemi jadi menyusahkan ya, Pak. Untung aja masih ada Fika yang bisa mbantu Mak.” Ujar Mak yang mengagetkanku. Seperti dapat membaca pikiranku, Mak mengatakan itu. Lagi-lagi aku bersyukur karena memiliki Mak yang hebat.

“Perempuan sebenarnya adalah sosok yang sangat kuat, bahkan saat dihantam ribuan badai tantangan sekalipun. Pandemi nampaknya juga bukan perkara yang menyulitkan mereka, justru semakin menguatkan ambisi mereka yang sama sekali tidak pernah bergerak turun.”
Magelang, 08 Maret 2021

Oleh : Oktorini Rahmadina Tyasti

Ini merupakan cerita dari peserta program dan pemenang lomba cerpen mengenai Hari Perempuan Internasional tahun 2020.

Kunjungan KASIH PBBN

Kunjungan KASIH PBBN

Bantul- Pencinta Budaya dan Busana Nusantara (PBBN)  melaksanakan kegiatan Bakti sosial pada tanggal 29 April Tahun 2022, dipimpin oleh Ig. Titik Purwati , Drg. Anie  dan diikuti oleh seluruh  PBBN yang berjumlah 25 anggota . Bertempat di Susteran Gembala Baik Yogyakarta.

Acara Baksos ini dibuka  dengan  tarian Nawung Sekar  yang ditarikan oleh  Clara Ajeng  Dewani  Puspita  dan sambutan dari Ig.Titik purwati  sebagai ketua komunitas PBBN. Pihaknya menyampaikan bahwa kegiatan Bakti Sosial PBBN ini bermaksud untuk memberikan tali kasih berupa  sembako dan santunan uang tunai untuk karya sosial Gembala Baik Yogyakarta. Aksi sosial ini diserahkan langsung  oleh pihak panitia kepada  Sr. Theresia Kurniawati, RGS sebagai Koordinator Karya Sosial Gembala Baik.

KunjunganPBBN

Bakti Sosial PBBN sebagai bentuk dukungan terhadap karya pelindungan perempuan dan anak dalam misi Gembala Baik dan upaya memberikan perhatian kepada suster di Gembala Baik. “ Kegiatan ini merupakan Bakti Sosial yang bertujuan untuk berbagi kasih dan bentuk solidaritas terhadap saudara-saudara yang membutuhkan bertepatan dengan perayaan idul fitri”. Ungkap Drg.Anie saat menyerahkan donasi.

Pada kegiatan kali ini Gembala Baik juga memberikan paparan tentang misi para suster Gembala Baik termasuk karya sosial Gembala Baik kepada komunitas seluruh PBBN.

Sr. Theresia Kurniawati , RGS menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada PBBN  karena telah memberikan bantuan sosial kepada Karya Sosial Gembala Baik Yogyakarta. Sebagai dukungan yang sangat berarti bagi program pendampingan perempuan dan anak.

Acara Baksos PBBN ini ditutup dengan menari bersama dan bernyayi dengan suasana yang sangat meriah dengan suka cita.

Kerjasama Dalam Misi Karya

Kerjasama Dalam Misi Karya

Jogja, 1 April 2022, Gembala Baik Yogyakarta melakukan koordinasi bersama salah satu jejaring lembaga pendampingan psikologi Wiloka Workshop. Koordinasi yang dilakukan bersama Koordinator Karya Sosial Gembala Baik Jogja yaitu Suster Theresia Kurniawati, Program Manager dan Kordinator Pelaksana Program pendampingan komunitas Srikandi ini berdiskusi mengenai strategi pengembangan dan rencana tindaklanjut pendampingan Komunitas Srikandi, Crisis Center, Rumah Aman Kehamilan Tidak Direncanakan maupun Komunitas Rose Virginie.

Kegiatan yang berlangsung di Kantor Layanan Wiloka ini disambut oleh CEO Wiloka Workshop Lucia Peppy Novianti,Mpsi., Psikolog bersama psikolog rekanan Wiloka Vincent Edi, M.Psi, Psikolog. Pada pertemuan kali ini Gembala Baik dan Wiloka bersepakat untuk melanjutkan kerjasama penanganan kasus dan pendampingan perempuan dan anak yang mengalami kekerasan berbasis gender dengan pendekatan partisipatif dan pendekatan berbasis hak. Dalam diskusi kali ini pula pemberdayaan setiap pribadi dan integrasi nilai-nilai positif Gembala Baik akan menjadi arus utama dalam pendampingan.

“Kami sangat berharap dengan adanya pendampingan psikologis bagi korban dan penyintas seiring dengan aktifitas program pemberdayaan sesuai dengan minat dan kemampuan peserta program akan memberikan dampak positif bagi setiap pribadi”, ungkap Pipit Lina, Program Manager Karya Sosial Gembala Baik Jogja.

Kerjasama baik ini disambut baik oleh Wiloka Workshop sebagai bagian dari model pendampingan masyarakat untuk memberikan kontribusi positif bagi pendampingan psikologis. Demikian Gembala Baik mendapatkan cara profesional dan langkah tepat dalam pendampingan psikologis korban dan penyintas.

× Bagaimana Kami dapat membantu Anda