CERITA PENYINTAS

Text: Pipit Lina

Photo: Michael Eko

Tindakan kekerasan berbasis gender seringkali terdengar samar di masyarakat kita. Budaya patriarki kerap melindungi pelaku dan menyudutkan korban ke dalam stigma yang bias gender. Dalam banyak kasus, keluarga korban yang seharusnya menjadi pendukung korban (supporting system), justru turut ambil bagian dalam memperparah stigmatisasi tersebut.

Sikap menyalahkan korban, aborsi dan pernikahan yang dipaksakan menjadi beberapa solusi instan yang kerap dilakukan ketika terjadi kasus kehamilan tak direncanakan maupun kekerasan dalam pacaran dan rumah tangga. Padahal, dalam perspektif hak asasi manusia, korban (dan anak yang dikandungnya) memiliki hak untuk melanjutkan hidup dan masa depan.

Sejak 1985, Srikandi Social Services yang dikelola oleh Yayasan Gembala Baik di Yogyakarta konsisten mendampingi perempuan dan anak-anak korban kekerasan serta remaja yang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan. Dengan semangat untuk kehidupan (pro life), Yayasan Gembala Baik bersama berbagai pihak berupaya memberikan perlindungan dan pendampingan inklusif bagi korban kekerasan berbasis gender.

Kisah-kisah di bawah ini adalah gambaran singkat mengenai bagaimana proses pendampingan tersebut dilakukan. Melalui rumah perlindungan Asrama Karya Tasih dan pendampingan dalam Komunitas Srikandi dan Rose Virginie, para remaja perempuan dan korban kekerasan diajak untuk belajar menghargai dan mengelola diri, hingga akhirnya dapat kembali ke masyarakat menjadi pribadi yang mandiri dan berdaya.

AYU

Ayu (bukan nama sebenarnya, 18 tahun), saat itu usianya masih anak ketika menjadi peserta program shelter Karya Tasih. Sejak bulan Agustus 2019, pasca melahirkan ia pulang ke rumahnya dan memilih merawat anaknya sendiri bersama dengan orangtua.

Ia diantar oleh kedua orang tuangnya, atas rekomendasi Romo Paroki di wilayah Kevikepan Yogyakarta. Saat itu Ayu memilih untuk keluar dari sekolah dan berhenti dari program beasiswa di jenjang sekolah menegah tempat ia belajar.

Ayu mengeluarkan seikat rosario dari laci meja di rumahnya, menyerahkan kepada kami ketika melakukan kunjungan beberapa waktu lalu di rumahnya. “ Ini Sus, rosarionya sudah jadi, dari bahan-bahan yang Suster berikan pada Ayu waktu Ayu keluar dari Shelter,” kata Ayu kepada Suster Flora.

Enam bulan pasca pendampingan dan kembali ke rumahnya, Ayu kini tengah menempuh program pendidikan penyetaraan, untuk bisa mendapat ijazah tamat belajar sekolah menengah. “ sempat terpikir untuk melanjutkan sekolah formal seperti biasa, tapi saya tidak bisa untuk jauh dari anak saya, akhirnya saya memilih kejar paket,” terang Ayu.

“Saya kadang juga pengen keluar, main seperti teman-teman yang lain. Tapi kalau saya keluar, saya selalu ingat anak saya, sedih, kalau harus ninggalin lama,” ujar Ayu sambil menyuapi anaknya dan tersenyum. “Jadi saya seneng di rumah, bisa deket sama si kecil terus, bikin rajutan, tempat hape, tas untuk tempat air minum seperti yang diajarkan di Asrama KT (Karya Tasih) juga membuat batik. Kemarin juga sudah ada yang membeli hasil karya saya,” ungkapnya bangga.

“Saya juga lebih senang di rumah, sambil menerima pesanan kerudung mantila dan taplak meja dari Ibu-Ibu Lingkungan, bisa sambil nunggu cucu,” Ibu Ayu menambahkan.

Ketika ditanya tentang keberlanjutan kesepakatan dengan pihak laki-laki, Ibu Ayu menerangkan, “ Iya mereka datang, sebulan sekali atau dua kali untuk melihat si kecil, sesuai dengan kesepakatan yang kita buat di Asrama Gembala Baik waktu itu.”

“Saya dan kakungnya sayang sekali dengan cucu kami ini, kalau ‘yang sana’ datang, kami juga pasti ikut menemui,” terangnya.

Mengupayakan berdamai dengan diri sendiri, keluarga dan mediasi dengan pihak laki-laki demi kepentingan anak menjadi bagian dari pendampingan dan advocacy bagi anak dan perempuan yang mengalami kekerasan berbasis gender khususnya dengan kehamilan tidak direncanakan. Seperti Ayu, proses rekonsiliasi terus berjalan dan ia berusaha mandiri demi kebahagiaan anaknya.

RIRI

“Ini anaknya nggak mau Sus. Maunya di rumah, mau tetap bantu jualan di pasar, keluarga semua dan tetangga sekitar juga sudah tahu. Saya bilang ke dia, kalau di rumah kamu harus tahan omongan orang,” cerita Ibu Riri (bukan nama sebenarnya), kepada kami ketika melakukan kunjungan ke rumahnya, di wilayah Yogyakarta bagian utara, penghujung Januari lalu.

Tim Srikandi Social Services melakukan kunjungan pada keluarga calon peserta program shelter Asrama Karya Tasih pasca kunjungan yang dilakukan keluarga Ibu Riri, yang bermaksud mengikutsertakan Riri (25tahun) yang mengalami kehamilan tidak direncanakan.

Riri anak dari Ibu Tunggal, memilih tetap tinggal bersama dengan Ibu dan neneknya serta tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa, mulai dari berjualan bakso di pasar maupun aktif menjadi kader lansia di desanya.

“ Ya mbak, saya tetap ikut kegiatan mudika di gereja, muda-mudi juga kegiatan kampung. Mereka tetap baik-baik saja, ada juga yang kasih vitamin dan susu buat saya,” ujar Riri. “Saya juga masih ikut misa seperti biasa,” tambahnya.

Bagi keluarga besar Ibu Riri ini memang pukulan yang berat bagi keluarga mereka, namun kondisi ini tidak berarti menjadikan keluarganya untuk membenci Riri. “Sekarang keluarga besar sudah tahu semua, ini ujian, bagaimanapun Riri cucu saya, ini Berkat dari Gusti, saya kembali ke kampung, untuk merawat cicit pertama saya,” kata Nenek Riri sambil berkaca-kaca

Sejak ditinggal oleh ayahnya, Riri dan Ibunya tinggal berdua dan mengembangkan usaha mandiri dengan berjualan di pasar. Oleh Ibunya, Riri diajari untuk membuat produksi bakso, dicarikan tempat di pasar, dan diberi kepercayaan untuk berjualan secara mandiri.

Dengan kondisi kehamilan tidak direncanakan ini, keluarga telah berkomitmen untuk merawat anak bersama-sama. Meskipun tidak bergabung dalam pendampingan di Asrama Karya Tasih, Riri dan Ibu Riri, akan bergabung dalam pendampingan Ibu Tunggal, divisi Srikandi pada layanan Srikandi Social Services, Gembala Baik. Meski beresiko terkena stigma masyarakat, keluarga kecil ini tetap berusaha menjalin relasi dan komunikasi dengan lingkungan sekitarnya, sembari berusaha mandiri dan merawat kehidupan yang dititipkan Yang Kuasa kepada mereka.

LALA

“Anak saya pintar ya Sus, terawat, kemarin waktu video call, dia cium-cium saya di layar. Nanti kalau saya sudah selesai kuliah, saya sudah kerja dan mandiri, saya akan ambil dan rawat anak saya,” cerita Lala (bukan nama sebenarnya, 21 tahun) begitu kami sampai di rumahnya.

Lala, mantan peserta program Karya Tasih, memilih untuk menitipkan sementara anaknya di Panti Asuhan, agar ia dapat meneruskan kuliahnya yang sempat mandeg karena kondisi kehamilannya. Pengalaman kehamilan tidak direncanakan bukah berarti kegagalan dalam meraih cita-cita bagi Lala. Apalagi harus meninggalkan bangku kuliah. Dengan melanjutkan pendampingan di program Rose Virginie – Gembala Baik, Lala mendapatkan bantuan biaya pendidikan untuk membantu meneruskan kuliahnya.

Lala, menjadi peserta program pendampingan di Asrama Karya Tasih atas rujukan dari seorang Dokter, setelah usahanya dan keluarganya untuk mengaborsi anak yang dikandung oleh Lala ditolak oleh dokter. Keluarga Lala juga sempat menjadi korban penipuan atas iming-iming aborsi aman. Lala selanjutnya mengikuti program pendampingan di Yayasan Gembala Baik.

Ketika ditanya mengenai mantan pacarnya, ia menjawab, “Kalau saya sudah memafkan, saya masih berdoa untuk dia, semoga diberi jalan yang terbaik. Kasihan juga dia, gara-gara ini kehilangan masa depannya. Kalau saja dia mau datang dan bicara baik-baik dengan keluarga kami, pasti ada jalannya.”

“Saya belajar banyak di Asrama, mulai dari memaafkan diri saya sendiri, sampai dengan dengan rendah hati menerima kondisi saya waktu itu, dengan tidak menaruh dendam terhadap dia, dan tetap mendoakannya,” sambung Lala.

Proses yang panjang bagi orang tua Lala untuk dapat menerima kondisi Lala dengan kehamilannya. Rasa malu terhadap keluarga besar, rasa malu dengan jemaat lingkungan, rasa takut tidak bisa melanjutkan kuliah dan takut tidak mampu membiayai kehamilan, proses melahirkan dan merawat anak menjadi hal-hal yang mengkhawatirkan waktu itu bagi keluarga Lala.

“Kami bersyukur sekali, Tuhan telah berikan cara dan waktu yang tepat agar keluarga besar mengetahui tentang peristiwa kehamilan Lala. Setelah Ayah Lala meninggal, keluarga besar berkumpul, dan waktu itu Lala dicurigai hamil, padahal sebenarnya ia sudah melahirkan. Pada saat itulah saya berkesempatan untuk memberitahukan hal yang sebenarnya,” terang Ibu Lala

Ibu Lala bercerita bahwa ia mendapat tanggapan yang beragam atas peristiwa ini, baik yang menyalahkan ataupun yang mendukung, namun bagi Ibu Lala tidak ada alasan untuk tidak menyayangi anak dan cucunya.

Proses mediasi dengan pihak laki-laki yang dilakukan oleh tim Srikandi Social Services tidak membuahkan hasil kesepakatan bersama. Keluarga Lala menolak untuk dipertemukan dengan pihak laki-laki. Demikian pihak keluarga laki-laki yang awalnya mengaku akan mengupayakan mediasi lanjutan bersama dengan orang tuanya, justru menghilang.

Hingga akhirnya keluarga laki-laki menyatakan untuk tidak mau untuk bertanggungjawab atas kehamilan dan masa depan anak Lala. Namun Lala tidak lantas patah semangat, menjadi Single Mom, bukan hal yang tabu dan memalukan. Terlebih Lala mempunyai keyakinan bahwa apa yang ia perjuangkan saat ini adalah demi masa depan anaknya.

Kini, melihat wajah anaknya dari jauh menjadi semangat baru bagi Lala dalam melanjutkan kehidupan. Sembari menyelesaikan kuliah dan bekerja, ia berharap dapat segera bertemu dengan anaknya dan kelak menjadi keluarga yang mandiri. Hidup adalah titipan yang perlu diperjuangkan dan ia terus berjuang menghidupinya.

” Setiap pribadi jauh lebih berharga daripada seluruh dunia. “

St. Maria Euphrasia

DUKUNG KAMI

\

Apresiasi karya kami. Setiap karya adalah doa

\

Bantu kami lewat donasi

\

Berkarya bersama kami

\

Kerjasama bersama kami

× Hubungi Kami