Hai teman baik, aku  ingin berkisah tentang sedikit pengalamanku untuk  teman-teman ataupun ibu tegar dan kuat di luar sana.

Sebut saja nama aku Santika (bukan nama asliku). Aku menjalani hidup  layaknya orang lain diluar sana, yang berbeda adalah  Aku seorang  ibu tunggal dengan tiga  anak perempuan yang masih bersekolah. Anak pertama baru saja lulus dan masuk di salah satu kampus swasta di Yogyakarta. Anak yang kedua saat ini sedang berada di bangku SMP dan anakku yang ketiga masih kecil bersekolah di Taman Kanak-Kanak.

Aku menjadi ibu tunggal setelah suamiku pergi begitu saja meninggalkan anak-anak dan aku. Aku mencoba mencaritahu keberadaannya, mencoba mengajaknya kembali namun sampai saat ini semua usahaku sia-sia. Aku bekerja keras untuk buah hati yang sedang membutuhkan biaya baik untuk kelangsungan hidup maupun untuk pendidikan mereka. Melihat wajah- wajah cantik nan lucu  membuat ku bangkit dari segala masalah yang aku hadapi . Aku sangat bersyukur karena bersama mereka hidupku  terasa lebih berwarna , banyak hikmah yang terjadi dan itu menjadi pelajaran untukku untuk bisa  lebih bersykur lagi. Tuhan memberikanku anugerah yang membuatku kuat menjalani kehidupan yang seringkali kurasa tidak mudah.

Demi masa depan  anak-anakku, aku menjalani tiga pekerjaan. Pekerjaan utamaku adalah penyuplai sekop pasir , setiap ada orderan aku mengantarkan barang -barang itu ke toko besi . Dari satu toko besi ke toko besi lain aku berusaha menawarkan sekop pasir. Beberapa minggu kemudian  aku mengambil hasil jualan sekop pasir yang laku terjual. Sekop pasir itu sendiri aku beli dan kujual lagi /kulakan dari seorang pembuat sekop pasir rumahan. Aku berusaha menyisihkan uang dari hasil penjualan sekop pasir untuk tabungan sekolah anak-anakku. Pekerjaanku yang lain adalah membantu membuat jajanan pasar dan terkadang aku membuat bakso tusuk untuk dijual.  Semua aku lalui dengan lapang dada dan iklhas menikmati setiap ritme kehidupan ini.

Kekhawatiranku adalah ketika orderan sekop pasir sepi sementara aku harus memberi anak-anakku makan. Puji Tuhan yang bisaku ucapkan karena anak-anakku mengerti dan malah menyemangatiku. Mereka makan apa adanya tidak menuntut apapun dariku. Aku tidak memikirkan hal lain, kecuali tiga buah hatiku dengan senyum dan tawa mereka membuatku gembira. Aku harus bangkit dan mengerjakan pekerjaan lain  yang menghasilkan, agar tercukupinya kebutuhan rumah dan sekolah anak. Apapun kulakukan asal halal agar semua kebutuhan anak-anakku terpenuhi terutama untuk sekolah,karena sekolah adalah hal yang paling penting.

Aku mengenal komunitas Gembala Baik oleh salah satu temanku sebut saja namaya Eka (bukan nama asli). Dia mengajakku untuk datang ke salah satu kegiatan komunitas srikandi Gembala Baik Yogyakarta di situ aku bertemu dengan  ibu – ibu yang  kondisinya sepertiku. Pada Saat melihat  ibu-ibu itu  aku merasa nyaman dan senang mempunyai teman karena aku bisa sharing dan mendengar cerita mereka, dan rasa gejolak semangat aku menjadi semakin besar untuk hidup .  Pada awalnya aku merasa sendiri  menjalani jatuh bangun kehidupan,  bersama komunitas srikandi kepercayaan diriku semakin kuat.  

Begitulah, kisah yang bisa aku ceritakan untuk teman-teman. Mungkin tidak sebanding dengan perjuangan teman -teman dalam menjalani hidup ini. Terima kasih sudah mau membaca ceritaku, sampai berjumpa lagi teman baik.

× Bagaimana Kami dapat membantu Anda