Hallo, kali ini aku memberanikan diri untuk berbagai cerita pada teman baik. Namun tak apalah, aku ingin membagikan kisah yang membuat aku mengucap syukur dan terkadang,  itu membuat bangga pada diriku sendiri. Membuat cambuk semangat untuk melewati payahnya hidup ini. Huft, melelahkan, tapi bisa ku tepis dengan semangat yang tak pernah padam. Sebut saja aku Mayang (bukan nama asli). Aku adalah pejuang kerasnya kehidupan diselimuti dekapan kehangatan buah cinta yang kusayang. 

Aku dikaruniai Tuhan 4 buah cinta. Anakku yang paling besar ku titipkan di panti asuhan. Sedangkan, ketiga anakku yang lainnya kurawat dan ku asuh.  Anak keduaku duduk di bangku kelas 4 SD. Kemudian, anak kedua dan ketigaku berumur 5 tahun dan 3 tahun. Kehadiran buah cintaku membuat aku semangat dan bisa menikmati peliknya situasi yang aku hadapi.  Aku adalah ibu yang membesarkan anak-anakku tanpa dampingan sosok Ayah. Sedih rasanya, tetapi dari situlah aku belajar untuk sabar, menerima, dan mengikhlaskan. 

Sungguh, merupakan hikmah luar biasa dapat aku rasakan. Puji Syukur, aku haturkan kepada Tuhan karena masih bisa merasakan emosi di setiap fase kehidupan yang aku lewati. Tak lain, aku bisa bertahan berkat anak-anakku ini. Canda, tawa, bahagia aku rasakan ketika aku bisa memeluk erat tiap malam. Menemani mereka,  makan bersama dan segala momen ku habiskan waktu bersama mereka setiap harinya. Sampai aku luput tak tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Itulah mimpi tentang makna rumah yang aku harapkan. 

Cukup sederhana. Ya, walaupun kadang diriku merasa kelelahan merelai anak-anak ketika berkelahi dan menangis.  Lalu, mencari anakku kedua yang sering hilang entah kemana. Menambah kekhawatiran dan ketakutan jika terjadi apa-apa dijalan. Ya, karena suka bermain dan terlalu berani. Biasanya, menggunakan sepeda untuk bepergian tetapi lupa jalan pulang. Kalau dipikir-pikir ulang, itu adalah momen yang menggelikan juga. Lega rasanya ketika sudah menemukan dirinya kembali. 

Tetapi, itulah beberapa cuplikan dari potret manis yang bisa aku ukir di dalam benakku sepanjang masa. Tidak bisa aku sebutkan satu persatu karena terlalu manis untuk merawat kenangan membesarkan buah cintaku. Ya, akhirnya  aku sudah bisa merasakan bagaimana menjadi seorang ibu. Terlampaui ekspektasi-ekspektasiku yang terkadang belum bisa sepenuhnya aku capai. Tak apalah. 

Baik, aku adalah wanita paruh baya yang tenaganya setiap hari terkuras habis  hanya demi bisa bertahan melanjutkan kehidupan di esok hari. Diriku sering merasa begitu kelelahan, seakan-akan tak ada waktu untuk bernafas dalam artian beristirahat sambal berbaring di kasur yang empuk. Aku sering menerobos nyengat panasnya matahari di siang hari untuk sesuap nasi. Aku selalu menyusuri sepinya malam mengayuh sepeda  di jalanan yang berdebu bersama anak-anakku.

  Ya, saya bekerja sebagai pemungut sampah. Waktunya pun tidak tentu, kadang sampai sore kadang juga malam. Untuk penghasilan pun, juga sama. Diriku sehari bisa mendapatkan minimal dua ribu rupiah. Sedangkan, nominal paling besar bisa mencapai dua ratus ribu rupiah. Tetapi ingat, itu adalah momen yang langka. Selain itu, aku bekerja serabutan membantu orang-orang yang membutuhkan ketika ingin membersihkan rumahnya, mencuci pakaian, dan sebagainya. Berbagai usaha untuk bekerja keras saya lakukan. Banting setir kesana-kemari untuk mencari kebutuhan sehari-hari yaitu makan.

Ya, menjadi pergolakan batin sendiri juga. Ketika menghadapi situasi dimana anak-anakku harus ikut bekerja. Anakku ku boncengkan dan ku masukan keranjang. Sedangkan, satu lagi menemaniku bersepeda. Cukup buntu untuk memikirkan hal seperti itu. Ketika keadaan mendesak dan memaksa. Jika diriku tinggal terlalu lama di tempat tinggal pun, membuatku kepikiran dan tidak nyaman. Namun, untunglah untuk beberapa waktu diriku berusaha tidak melewati batas. Ketika, ada orang yang membantu akan aku titipkan anakku  untuk bekerja. Hanya seperti itu saja. 

Kehidupanku  minimalis, melebihi batasan dari esensi tentang kesederhanaan. Hanya kurang lebih mempunyai gubuk untuk bisa berteduh dan alas tidur saja. Sangat tumpat pedat, sesak. Penuh dengan segala perabotan yang hanya bisa ditampung oleh ruangan sepetak tanah itu. Kasur saja hanya satu untuk berempat.  Tetapi ada kehangatan yang menyergap.  Berkat ditemani anak-anakku yang setiap harinya penuh suka cita dan pandai menghibur ibunya disaat sedang sedih. Kini, bisa memetik apa arti dari berbagi.

Syukurlah, diriku percaya bahwa Tuhan selalu membantu dan memberikan jalan. Entah apapun rezekinya selalu diriku terima. Syukur, diriku selalu dikelilingi dan ditemui orang-orang tulus yang mau membantuku dalam bentuk apapun itu seperti memberikan perhatian. Terimakasih bagi orang-orang yang sudah memberikan aku dan anakku itu cinta kasih. Diriku semakin semangat untuk mensyukuri dan mencintai hidup. Akan diusahakan aku baik-baik saja dengan segala kesulitan yang  merisak diriku.

Bukan, menjadi suatu kebetulan.  Ini adalah garis hidup yang sudah Tuhan tentukan bagi diriku. Diriku yakin Tuhan tidak tidur. Tuhan selalu memberkati diriku. Tanpa henti tiap diriku membuka mata, selalu menghayati nama Tuhan. Diriku berserah dengan berdoa kepada Tuhan. Bagiku, Tuhan adalah sumber kekuatan dan pelita bagi diriku.  Tuhan menolong diriku lewat tangan-tangan yang ditebarkan melalui banyak orang yang datang menghampiriku. Memberiku pertolongan. 

Maka, sembari menyongsong pertumbuhan anak-anakku, aku hanya bisa memberikan bekal berupa ketakwaan kepada Tuhan untuk masa yang akan datang menjemput anak-anakku.  Aku bertanggung jawab atas itu. Sehingga aku ajarkan mereka berdoa, membaca alkitab, memberikan sedikit wawasan tentang perjalanan Yesus. Terutama ketika  Tuhan Yesus di Salib. 

Aku ajak anak-anakku pergi ke gereja dan aktif mengikuti kegiatan sekolah minggu. Aku mengusahakan pendidikan agamanya selaras harmonis dengan apa yang aku harapkan.  Anak-anakku ku pahamkan tentang  meneladani sikap dari Keluarga Tuhan Yesus.  Kelak, aku akan berdoa sepenuh hati supaya Tuhan mendengarkan doaku. Kelak, anakku akan berhasil dan bisa keluar dari zona yang aku rasakan. Bahkan, bisa mengejar mimpi-mimpi yang sebelumnya diriku tidak dapat menghadirkannya.  Agar senantiasa anakku bahagia selamanya.

Begitulah, secumlik kisah yang dapat aku bagikan untuk teman baik. Terimakasih sudah mau membaca kisah yang tak seberapa dibandingkan perjuangan Tuhan Yesus untuk menebus umat manusia. Kita semua pasti akan baik-baik saja dan senantiasa diberkati dan diberi keselamatan oleh Tuhan. Percayalah, bagaimanapun  dirimu , dirimu luar biasa sudah mampu berdiri tegak dan bertahan sampai saat ini. Sampai berjumpa kembali teman baik. Salam hangat penuh cinta.

 

Oleh : Ayu Diva

Foto oleh : Gabriela Pipit Lina

Tim Media Gembala Baik Yogyakarta

 

× Bagaimana Kami dapat membantu Anda