PEMBUNGKAMAN DIRI PADA PEREMPUAN

Aug 25, 2020Renungan

sebuah kajian dan refleksi

Oleh: Martha Hesty Susilowati
“Mencintai bukan berarti harus menjadi seseorang yang didambakan oleh orang yang kita cintai atau melakoni kehidupan yang diinginkan oleh orang lain.”

Sering kita jumpai kalimat motivasi “Be Yourself”, yaitu berani menjadi diri sendiri dan mengekspresikan diri apa adanya. Pada kenyataannya kata-kata itu memang mudah diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Terkadang masih ada cerita dimana seseorang takut untuk mengungkapkan diri apa adanya, sejujur-jujurnya pada pacar, pasangan maupun orang-orang terdekat.

Tidak menjadi diri sendiri, memendam rasa dan apapun yang sebenarnya ingin kita ungkapkan merupakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Seringkali ketika seseorang merasakan hal tersebut, ia merasa tidak dipahami, tidak diterima, atau merasa sendiri, kesepian.

Ketidakmampuan kita untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya kita rasakan dan kita pikirkan, terlebih yang terjadi pada perempuan merupakan sebuah fenomena yang dinamakan Pembungkaman Diri. Pembungkaman Diri pertama kali diperkenalkan oleh peneliti bernama Dana C Jack. Ia melakukan penelitian jangka panjang yang bertujuan untuk mencari tahu mengapa banyak perempuan di negara berkembang mengalami depresi berat atau rasa sangat tertekan yang berkepanjangan. Ternyata penyebab depresi pada perempuan khususnya di negara berkembang adalah Pembungkaman Diri (Jack & Ali, 2010). Tidak hanya terjadi dalam lingkup pernikahan, pacaran atau relasi romantis, Pembungkaman Diri juga bisa muncul dalam relasi keluarga (antara anak dan orang tua, antara kita dengan keluarga pasangan/mertua) dan relasi pertemanan maupun persahabatan, bahkan relasi di tempat kerja.

Secara teoritis, Pembungkaman Diri merupakan cara berpikir seseorang tentang bagaimana memelihara dan mempertahankan relasi pacaran, pernikahan dan relasi dekat lainnya (Jack & Dill, 1992; Lutz-Zois, Dixon, Smidt, Goodnight, Gordon, & Ridings, 2013). Cara berpikir tersebut mengarahkan seseorang, khususnya perempuan untuk menekan, menyembunyikan atau membungkam perasaan, pikiran dan perilaku (Jack & Dill, 1992) yang menurut mereka bertentangan dengan harapan pasangan. Mereka melakukan hal tersebut untuk menghindari konflik, mempertahankan relasi dan meyakinkan bahwa mereka aman secara fisik dan psikologis, artinya tidak diperlakukan kasar dan diancam oleh orang-orang terdekat mereka (Jack & Ali, 2010). Misalnya, seorang remaja perempuan dalam relasi pacaran terpaksa menuruti permintaan pacarnya untuk berhubungan seksual, karena takut ditinggalkan oleh pacarnya atau diancam oleh pacarnya ketika remaja perempuan tersebut menolak.

Selain itu, dalam relasi pernikahan, terkadang kita juga mendengar cerita dimana ada seorang istri yang terpaksa menuruti keinginan suami untuk berhubungan seksual meskipun saat itu ia tidak ingin atau tidak sedang berhasrat untuk berhubungan seksual. Ia tidak mengungkapkan pada suaminya bahwa ia sedang tidak ingin berhubungan seksual karena ia takut kehilangan cinta suaminya. Atau cerita Ibu rumah tangga yang terbebani pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti memasak, menyediakan makanan untuk suami dan anak-anaknya, membersihkan rumah dan pekerjaan rumah tangga lainnya, dimana tidak ada peran suami yang bisa diajak berbagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan tersebut. Padahal, jika ia bisa memilih, ia ingin beristirahat sejenak saja. Tetapi Ibu rumah tangga tersebut tidak berani menggungkapkan keinginannya, terlebih pada suaminya, karena ia berpikir bahwa memang sudah tugasnya sebagai Ibu rumah tangga untuk melakukan dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga.

Pembungkaman diri tersebut terbentuk dari keyakinan masyarakat terhadap norma-norma, nilai-nilai, dan gambaran-gambaran yang mengarahkan seseorang untuk menjadi figur yang menyenangkan, rela berkorban/altruis, mencintai/mengasihi, dan menjadi figur yang sesuai dengan harapan atau standar-standar tertentu. Selain itu, pembungkaman diri yang dialami oleh para perempuan sangat dipengaruhi dengan budaya partriarki, dimana perempuan dianggap sebagai seseorang yang seharusnya memang tidak diprioritaskan dibandingkan laki-laki, sebagai seseorang yang seharusnya diatur dan tunduk pada kaum laki-laki.

Berdasarkan Jack & Ali (2010) adanya kecenderungan pembungkaman diri dapat kita amati dan rasakan dari tanda-tanda berikut :

  1. Kita menilai diri kita dengan aturan-aturan yang berasal dari luar diri sendiri, misalnya nilai-nilai sosial, budaya partriarki, norma, nilai-nilai agama, standar sosial dan standar orang lain.
  2. Kita lebih mengutamakan kebutuhan-kebutuhan orang lain daripada kebutuhan-kebutuhan diri sendiri karena ingin melindungi relasi. Seseorang mengutamakan kebutuhan-kebutuhan orang lain karena meyakini aturan yang menyatakan bahwa orang yang mementingkan kebutuhannya sendiri daripada kebutuhan orang lain adalah orang yang egois. Aturan tersebut mengarahkan bagaimana seseorang seharusnya berperilaku ketika kebutuhan dirinya bertentangan dengan kebutuhan orang yang dicintai. Jika seseorang menyimpang dari aturan tersebut, maka ia memiliki penilaian diri yang negatif. Hal ini dapat memunculkan kemarahan karena orang tersebut akan menempatkan kebutuhannya dibawah kebutuhan orang lain. Namun, kemarahan tersebut akan ditekan oleh aturan moral dengan menekan kebutuhannya sendiri. Hal ini juga mengakibatkan rendahnya harga diri karena memunculkan perasaan tidak pantas atau tidak begitu penting dibanding orang lain.
    Contohnya: Pandangan mengenai kodrat perempuan bahwa pada hakikatnya perempuan merupakan sosok yang seharusnya berkorban dan merupakan sosok keibuan (Jack, 1991, p.123).
  3. Kita sering menekan ekspresi diri dan perilaku dengan tujuan untuk melindungi relasi dan konflik.
  4. Apa yang kita lakukan dan tunjukkan tidak sesuai dengan apa yang sesungguhnya ia inginkan. Hal ini merupakan hasil dari perasaan dan pikiran yang disembunyikan dalam sebuah relasi. Pada perempuan, hal ini tampak dalam gaya relasi dimana perempuan menuruti atau menaati harapan pasangan dan menyembunyikan perasaan yang berlawanan, seperti perasaan marah dan keinginan untuk melawan.

Dengan demikian, mengungkapkan diri baik itu pikiran, perasaan, pendapat, aspirasi maupun hal lainnya pada pasangan atau orang-orang terdekat merupakan hal yang penting dalam sebuah relasi, khususnya relasi pacaran dan pernikahan. Ketika masing-masing orang dalam relasi tersebut saling menceritakan tentang dirinya (pendapat, perasaan, pikiran, aspirasi dan hal lain yang dianggap penting) pada pasangan dengan sepenuh hati dan apa adanya, maka perasaan dekat dalam relasi tersebut semakin meningkat (Hatfield & Rapson, 1993). Apabila kedekatan yang bersifat psikologis atau emosional itu semakin meningkat, maka terbentuklah rasa saling percaya, rasa dipahami dan diterima oleh kekasihnya. Sebaliknya, ketika tidak ada keterbukaan dan pengungkapan diri apa adanya, karena rasa takut kehilangan cinta dari pasangan atau takut ditinggalkan, maupuan takut pada ancaman kekerasan dan tindakan kekerasan, maka akan timbul rasa tidak diterima, dan semakin tinggi resiko mengalami stress, depresi maupun rasa tertekan berkepanjangan (Jack & Ali, 2010). Memang, jika kita mengetahui bahwa kita merasa sering membungkam diri pada orang terdekat kita, misalnya pacar, lebih baik kita memilih untuk meninggalkan relasi pacaran tersebut.

Referensi:
Hatfield, E., & Rapson, R. L. (1993).Love, sex, and intimacy: Their psychology, biology, and history. University of California: HarperCollins College Publisher.
Jack, D. C., & Dill, D. (1992). The silencing the self scale: Schemas of intimacy associated with depression in women. Psychology of Women, 16, 97-106.
Jack, D. C., & Ali, A. (2010). Silencing the self across cultures depression and gender in the social world. New York: Oxford University Press.
Lutz-Zois, C. J., Dixon, L. J., Smidt, A. M.,Goodnight, J. A., Gordon, C. L., Ridings, L. E. (2013). An examination of gender differences in the construct validity of the silencing the self scale. Journal of Personality and Individual Differences, 55, 35-40.
× Hubungi Kami