“Sekarang kamu sudah jadi kakak” begitu kalimat yang kudengar dari Mamiku, aku terdiam tak tahu harus bagaimana, tidak tahu senang tidak tahu sedih…aku tidak tahu.

Namaku Kiel, aku anak laki-laki berusia 11 tahun, seharusnya aku kelas 5 SD tetapi pada waktu kelas 1 SD aku gagal, aku tidak memahami apa yang diajarkan guru di sekolah sampai akhirnya aku tinggal kelas. Menurut Oma, pada waktu itu aku sakit-sakitan, karena sering ikut mama kerja karena tidak ada yang mengasuhku, sampai suatu hari Oma tinggal bersama kami untuk mengasuh aku. Sejak kecil aku tidak mempunyai berat badan yang cukup baik, sekarang saja diusiaku yang 11 tahun ini bobotku hanya 20 kg. Aku tidak suka makan apa lagi makan sayur, jadi wajar ya kalau aku kurus seperti sekarang ini.

Orang-orang dewasa sering membuat box di kepalaku penuh. Aku sering dibuat bingung oleh mereka, contohnya Mami dan Papiku, aku tidak mengerti kenapa Mami dan Papi tidak pernah bertemu. Seringkali aku iri pada teman-temanku yang datang ke sekolah atau ke gereja bersama dengan Mami dan Papinya. Sedangkan aku, kalau Mami sempat ia akan mengantarku ke sekolah, tetapi kalau Mami tidak sempat, tukang ojeklah yang mengantar aku ke sekolah. Mami dan Papi tinggal terpisah, Papi tinggal dirumah yang besar, mempunyai mobil dan motor, sedangkan Mami dan aku tinggal berpindah-pindah Aku pernah tinggal di dekat sekolahku, tetapi pernah juga rumahku jauh sekali dari sekolah.

Aku tidak tahu persis kapan Mami dan Papi tidak bersama lagi, yang aku tahu sekarang Papi tinggal bersama 2 adik laki-lakiku dan seorang perempuan yang kupanggil Tante. Kadang aku bingung mengenai kedua adikku itu, mereka tidak lahir dari perut Mamiku tetapi mengapa bisa jadi adikku? Kalau Papi menjemputku untuk ke rumahnya aku bertemu dengan adik-adik dan mereka nakal sekali. Aku tidak boleh main mainan mereka dan sering memukul aku.

Aku tidak bisa membalas karena aku kakak mereka. Aku harus mengalah pada adik-adik. Kadang Papi membelaku dan memarahi adikku tetapi nanti diulang lagi. Kadang Papi mengajak aku dan adik-adik pergi jalan-jalan atau makan tetapi aku tidak bisa memilih makanan yang kusukai. Papi sering marah-marah, memukul bahkan menjambak rambutku kalau aku tidak menuruti perintahnya. Papiku jarang memberiku uang, hanya sesekali setelah aku tidur di rumahnya, seperti beberapa hari lalu setelah aku tinggal dirumahnya untuk beberapa hari ia memberiku Rp. 100.000. Aku membeli beberapa jajanan secukupnya di toko dekat rumah dan sisa uangnya kuberikan kepada Mami untuk keperluan yang lain. 

Terkadang aku berpikir, nanti kalau sudah besar dan aku menjadi ayah, aku akan memberi uang paling sedikit 2 juta sebulan untuk anak-anak. Aku tidak mau pelit seperti Papi. Papi pernah mengajakku untuk tinggal dengannya, tetapi karena adikku nakal dan yang paling sulit bagiku adalah kalau Papi memaksaku untuk makan yang banyak, aku tidak suka.

Mami, Papi dan oma tidak bisa memasak. Mami hanya bisa memasak air dan mie instan itupun tidak enak, Oma ku memasak yang menurutku secara sembarangan dan kadang gosong. Kalau Papi memasak kerap kali rasanya sangat pedas bagiku. Pun kalau aku protes karena kepedasan, Papi pasti memarahiku. Ini adalah salah satu keanehan orang dewasa yang sering tidak aku mengerti, mereka yang tidak pandai memasak tetapi aku selalu yang dimarahi.

Di sekolah aku mempunyai teman-teman yang banyak, mereka semua baik terhadapku. Mereka sering berbagi bekal kepadaku. Sudah lama sekali tidak sekolah, aku benar-benar merindukan mereka. Guruku juga baik-baik, sekolah adalah tempat yang menyenangkan bagiku. Hanya saja corona tidak pergi-pergi jadi aku harus menahan rindu pada sekolahku.

Sekarang ini aku tinggal di rumah teman Mami, kami memanggilnya Suster, dari beberapa tulisan yang menempel di dinding aku membaca nama Susteran Gembala Baik. Rumah Suster teman Mami ini besar, aku bisa bermain futsal tetapi tidak ada bolanya. Sebelum sampai kerumah ini, aku diberitahu kalau adikku sudah lahir, dia seorang adik perempuan. Dalam perjalanan aku ingin sekali segera sampai, aku ingin sekali melihat adikku. 

Sandria adikku sedang tidur ketika kami sampai di rumah Suster teman Mami. Aku memandangi wajahnya, cantik sekali, kulitnya putih, hidungnya mancung, iyalah…kakaknya juga ganteng tidak mungkin adiknya jelek. Hari-hari pertama aku tidak bisa tidur karena adikku sebentar-sebentar menangis minta susu, tidak tahu jam berapa aku mulai bisa tertidur dan kesokan harinya aku kesiangan, untung Pak Guru belum mulai memberi tugas kepadaku.

Aku bertanya pada Mami kenapa Sandria tidak dibawa pulang ke kost, Mami menjawab karena tidak punya uang, tidak mungkin Mami membawa adik ke rumah. Mami berencana memberikan adik kepada orang lain, supaya adik tidak hidup susah bersama kami. Aku sedih sekali, seandainya aku bisa membantu Mami pasti adik tidak diberikan kepada orang lain.

“ Suster, aku mau kerja” kataku kepada Suster teman Mami, “ Kerja apa” tanyanya kepadaku, aku mengatakan keinginanku untuk bekerja mengumpulkan botol bekas, hasilnya bisa dijual dan uangnya bisa membantu Mami. “Kiel tidak mau Sandria diadopsi” Suster teman Mami tersenyum lalu bertanya “ Kiel mau mencari botol dimana?” aku sudah berencana untuk mengambil botol-botol bekas di toko-toko dekat rumahku, aku ingin sekali adikku tetap bersama-sama dengan kami. 

“ Kiel kerjasama dengan Suster saja, nanti Suster bayarkan Kiel uang sekolah, jadi kan Mami gak usah bayar uang sekolah Kiel, tapi ada 2 syaratnya” itu kata Suster teman Mami. Syarat pertama aku tidak boleh lagi malas-malasan waktu belajar, harus bangun pagi sendiri, mandi sendiri dan harus makan pagi. Yang kedua aku harus bisa jadi kakak yang baik untuk Sandria, harus mau makan sayur, mau makan yang cukup dan rajin berdoa. Syarat yang tidak sulit, jangankan 2 syarat 100 syarat akan ku lakukan asal adikku tidak diambil orang.

Di rumah Suster ini aku sering diajak ngobrol, kalau aku bercerita Suster dan kakak mendengarkan. Tidak seperti di rumahku. Mami setiap kali ditanya diam saja, Oma sibuk dengan sinetron. Di rumah Papi juga begitu, apalagi sekarang adik-adikku sudah punya HP sendiri. Untung masih ada Ipad yang menemani aku.

Setiap sore aku ikut berdoa bersama Suster dan kakak di sini, aku senang berdoa bersama mereka, aku juga diberi giliran untuk mendoakan 10 salam Maria, aku senang sekali. Aku sering berdoa dalam hati supaya Mami tidak jadi memberikan adikku kepada orang lain. Mami sering diajak bicara oleh Suster temannya itu, kadang aku mencuri dengar apa yang mereka bicarakan, terutama kalau mereka menyebut nama Sandria adikku. Aku mendengar Suster beberapa kali berkata “ Bawalah dalam doa, biarkan Tuhan terlibat dalam keputusanmu”.

Hampir satu bulan kami berada di rumah teman Mami, beberapa hari yang lalu Mami mengatakan tidak jadi memberikan adik kepada orang lain, tetapi adik dititipkan dulu di tempat yang aman sampai Mami mampu merawat dan membesarkan aku dan adik. Aku senang sekali, ya meskipun untuk sementara waktu kami berpisah tetapi dia tetap akan menjadi adikku. Aku akan belajar yang baik dan tidak menyusahkan Mami, pokoknya aku tidak akan nakal supaya Mami bisa bekerja lagi dan mendapatkan uang untuk membawa Sandria lagi.

Hari-hari berpisah dengan Sandria sudah mendekat, aku sedih memikirkan itu sampai-sampai aku menangis. Sore ini waktu aku ikut Suster berdoa di depan Hosti Besar, aku berdoa : “ Tuhan Yesus sebentar lagi Kiel dan Sandria harus berpisah, semoga Sandria tidak menangis dan baik-baik saja sewaktu nanti jauh dari Mami dan kakaknya.” Amin.

Sandria adikku, meskipun jauh kakak akan selalu menjagamu. Kalau Mami dan kakak mengantarmu nanti bukan karena kami tidak sayang, tetapi biar Sandria tidak ikut susah bersama kami. Semoga Mami cepat dapat kerja, punya uang cukup dan kita bisa bersama-sama lagi ya…..

 

Yogyakarta, Jumat pertama September 2020

(SEKARANG SANDRIA SUDAH DIAMBIL KEMBALI DARI TEMPAT YANG AMAN DAN TINGGAL BERSAMA MAMI DAN KIEL)

Oleh : Sr. Theresia Kurniawati,RGS

Photo oleh : Gabriela Pipit Lina

Tim Media Gembala Baik Yogyakarta

× Bagaimana Kami dapat membantu Anda