Apa kabar penyintas dampingan Gembala Baik Jogja di tengah social distance dan antisipasi penyebaran Covid 19? Yuk kita simak cerita berikut :

Komunitas Srikandi

Sejak pemerintah memberikan wacana untuk menerapkan slowdown karena Covid 19 sudah mulai masuk di Indonesia, provinsi padat penduduk pun mulai memberikan ruang untuk perhatian kepada virus yang sudah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO ini. Demikian oleh pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta mulai meliburkan sekolah -sekolah dan mulai menerapkan bekerja di rumah bagi para karyawan.
Sebagai upaya pencegahan covid 19 menyebar lebih luas, karena Yogyakarta pun tak luput dari paparan virus tersebut.

Di tengah anjuran untuk tetap tinggal di rumah bagi warga Yogyakarta, ada kekhawatiran yang dalam bagi para pekerja buruh tidak tetap terhadap keberlangsungan hidup mereka. Termasuk di komunitas Srikandi dampingan Gembala Baik Jogja.
Bagaimana tidak, para penyintas Kekerasan Berbasis Gender juga Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini mulai kesulitan untuk melanjutkan pekerjaannya.

Pekerjaan sebagai Pekerja Rumah Tangga di sektor domestik harus dirumahkan, pekerja di sektor kuliner tidak bisa lagi berjualan seperti biasa di pinggir jalan, para penjahit pun sepi orderan. Sementara mereka harus memikirkan makan sehari-hari bagi anak-anaknya juga keluarga di mana mereka tinggal bersama.

Serba sulit memang, karena biasanya mereka hidup seperti pepatah ‘ ora obah, ora mamah’ ( tidak bergerak maka tidak makan), kondisi ini memaksa mereka tidak bergerak, yang berarti juga tidak makan.

 

Lantas apa yang sudah dilakukan?

Minggu itu juga, tim pegiat Gembala Baik Jogja baik suster dan awam saling berkoordinasi dan mencari info tentang kondisi penyintas. Benar, beberapa dari mereka terkonfirmasi kesulitan untuk mendapatkan akses sumber makanan. Maka, pada tanggal 21 Maret 2020 lalu, tim baru berhasil untuk mengadakan dan mendistribusikan sedikit sembako bagi 6 keluarga Penyintas di komunitas Srikandi Berupa 10 kg beras, 2 kg minyak, 2 liter minyak goreng. Beberapa bahan sembako tersebut, saat itu kami asumsikan akan cukup bagi mereka untuk masa tinggal di rumah selama dua minggu.

Di tengah kondisi yang belum membaik dan wacana gerakan ‘tinggal di rumah saja’ akan di perpanjang hingga 3 bulan, mereka membutuhkan lebih banyak sembako dari yang kita kirimkan waktu lalu.

Terdapat 66 peserta program yang terdiri dari 22 Ibu dan 44 anak yang membutuhkan bantuan dari kita untuk bisa mendapatkan makanan.

Kami mengundang bapak, ibu, saudara dan saudari sekalian untuk menggerakkan hatinya dan berbagi dengan berdonasi melalui Yayasan Gembala Baik Jogja.

Demikian dan Terimakasih
Berkah Dalem

 

 

× Hubungi Kami